PUSAT KESEHATAN HEWAN (puskeswan)

 

PUSAT KESEHATAN HEWAN

(puskeswan)

Dewasa ini masalah kesehatan harus dipandang sebagai masalah kesehatan semesta, yang memerlukan pendekatan paradigma “one word – one health – one medicine”. Hal ini mengandung implikasi pentingnya penyelesaian masalah kesehatan hewan secara tuntas dan berkesinambungan dalam suatu sistem kesehatan hewan nasional.

Pada hakikatnya upaya kesehatan, termasuk kesehatan hewan, merupakan tanggung jawab bersama. Dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan kesehatan melalui status kesehatan hewan nasional dan pengendalian Penyakit Hewan Menular (PHM) sehingga mencapai kondisi kesehatan, produksi dan produktivitas hewan yang meningkat secara optimal maka dibangun Pusat Kesehatan Hewan yang selanjutnya disingkat Puskeswan

Pembangunan puskeswan tersebut merupakan salah satu upaya penguatan kelembagaan kesehatan hewan dalam rangka pengendalian dan pemberantasan avian influenza dan penyakit hewan lainnya. Sebagaimana diketahui perkembangan kesehatan saat ini dan akan datang akan menghadapi tantangan yang lebih berat. Masuknya penyakit avian influenza pada pertengahan tahun 2003, menunjukkan bahwa banyak hal yang harus dibenahi dalam sistem kesehatan hewan di Indonesia salah satunya pengenbangan kelembagaan dan permasalahan lainnya seperti Sumber Daya Manusia, perkembangan metode diagnosa dan pengendalian penyakit, sistem informasi dan pelaporan penyakit dan sebagainya.

Menghadapi tantangan tersebut khususnya dibidang pelayanan kesehatan hewan telah dikeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 64 Tahun 2007 tentang Pedoman Pelayanan Pusat Kesehatan Hewan. Dengan terbitnya Permentan tersebut diharapkan Puskeswan menjadi pusat kegiatan pelayanan kesehatan hewan, pelayanan gangguan reproduksi, inseminasi buatan, penyuluhan, sehingga Puskeswan dapat menjadi sentral kegiatan kesehatan hewan dan pelayanan reproduksi ternak.

 

Disamping pelayanan kesehatan hewan dan reproduksi yang bersifat individual, Puskeswan juga mengemban amanah yang bersifat publik yakni pengengandalian dan pemberantasan penyakit hewan. Dalah hal ini Puskeswan merupakan ujung tombak yang berhadapan langsung dengan kasus dilapangan sehingga dapat melakukan deteksi dini, pelaporan dini dan respon dini (eraly warning system). Diharapkan kasus penyakit hewan menular dapat dikendalikan dan tidak menyebar serta dapat dibebaskan kembali.

Peran Puskeswan juga meliputi upaya pengamanan produk ternak yang diharapakan dapat bekerjasama dengan Rumah Potong Hewan (RPH) yang ada diwilayah kerjanya sehingga dapat menghindarkan manusia dari mengkonsumsi bahan makanan yang terkontaminasi dengan bahan berbahaya seperti residu dan kuman penyakit zoonosis.

Mengingat peran penting Puskeswan tersebut upaya pengembangan lembaga pelayanan kesehatan hewan tersebut harus senantiasa dilakukan baik dalam penambahan jumlah puskeswan, pemutakhiran peralatan dan peningkatan SDM pengelolanya. Diharapkan nantinya dapat berperan lebih dalam melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan biosekuriti peternakan dalam menghadapi perdagangan bebas.

Tujuan pembangunan puskeswan antara lain untuk :

* Meningkatkan status kesehatan hewan nasional

* Memberikan jaminan keamanan manusia, hewan dan lingkungan dari ancaman penyakit hewan, menghindari kemungkinan terjadinya resiko yang dapat mengganggu kesehatan (safety) baik pada hewan ternak maupun hewan non pangan

* Membangun jejaring kerja antara pusat dan daerah, serta antar daerah dalam berkoordinasi meningkatkan ketanggapan (responsiveness) terhadap ancaman penyakit hewan

KEGIATAN PELAYANAN PUSKESWAN

Kegiatan pelayanan Puskeswan dilakukan baik pelayanan aktif, semi aktif dan pasif, mengingat potensi peternakan yang ada di kabupaten Serang sangat bervariasi. Pelayanan aktif dilaksanakan sesuai dengan program kerja yang telah disusun setiap tahunnya seperti pemeriksaan cacing, pemberian obat cacing, vaksinasi dan pembinaan kelompok. Pelayanan semi aktif dilakukan apabila ada laporan dari peternak kemudian petugas mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan, hal ini dilakukan terhadap unggas dan ternak besar. Sedangkan pelayanan pasif yaitu melakukan pelayanan pada Puskeswan terutama menangani kasus penyakit hewan kesayangan dan konsultasi masalah gizi, pemeliharaan, pengobatan dan kesehatan hewan.

JENIS PELAYANAN

Jenis pelayanan yang dapat diberikan antara lain pengobatan, vaksinasi, operasi minor (luka) dan mayor (kastrasi, OvariHisteriktomi/OH), konsultasi masalah gizi dan kesehatan ternak/hewan,penyuluhan serta pemeriksaan laboratorium (feses, darah dan Pangan Asal Hewan)

OBYEK PELAYANAN

1. Ternak besar : sapi dan kerbau

2. Ternak Kecil : kambing dan domba

3. Unggas : ayam, bebek, itik, ento

4. Aneka Ternak : kelinci

5. Hewan Kesayangan : anjing, kucing

6. Bahan Asal Hewan : daging dan telur

Mengacu kepada Permentan Nomor 64/Permentan/OT.140/9/2007 Tentang Pedoman Pelayanan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) bahwa Puskeswan mempunyai wilayah kerja 1 – 3 kecamatan sesuai dengan jangkauan, efektifitas dan tingkat efisiensi. Sedangkan kabupaten Serang mempunyai 2 Puskeswan yang berlokasi di kecamatan Cinangka dan Baros yang mencakup wilayah kerja 28 kecamatan.