Akhir April lalu dalam rangka memenuhi undangan beasiswa kursus Perencanaan Sumberdaya Air, saya berangkat ke Delft Belanda. Institute for Water Education Unesco-IHE, pihak penyelenggara kursus, memberikan beasiswa pendidikan setingkat Master, Doktor dan kursus khususnya untuk negara-negara berkembang mengenai hidrologi dan segala sesuatu yang berkenaan dengan air seperti infrastruktur, sanitasi, pelabuhan, pengelolaan pantai, suplai air minum, lingkungan, serta kesehatan masyarakat di areal pertanian dan pedesaan.

UNESCO-IHE awalnya adalah kumpulan insinyur-insinyur bidang hidrologi yang membangun sistem pertahanan banjir setelah kejadian banjir yan g menghantam Belanda pada tahun 1953 dan mengakibatkan 2.000 orang meninggal dan 4.500 bangunan rusak.

 Saat ini UNESCO-IHE bersama Universitas Teknologi Delft (TU-Delft) menjadi universitas yang cukup dikenal di level internasional. Bahkan UNESCO-IHE telah menjadi salah satu fasilitas pendidikan pasca sarjana di bidang air yang terbesar di dunia.

 Dalam kursus 3 minggu ini, peserta dari berbagai negara seperti Nepal, Peru, Nigeria, Ethiopia, Italia, Yaman, Vietnam, Thailand, Bhutan, Sri Langka, Bolivia, termasuk Indonesia akan belajar mengenai Perencanaan Sumber Daya Air (Water Resource Planning) sebagai pendukung dalam Pengelolaan Sumber Daya Air (Water Resource Management) khususnya dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (River Basin).

 Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan konsep dasar perencanaan sumber daya air, penggunaan perencanaan partisipatif terintegrasi, identifikasi alat dan model seperti integrasi pemangku kepentingan dengan menggunakan LIBRA, penilaian dampak lingkungan dengan menggunakan EIA, decision support system, dan permodelan sistem pengairan. Disamping mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan strategi alternatif pengelolaan sumber daya air dan evaluasi strategi berdasarkan analisis multi-kriteria (multi-criteria analysis)

 Selain kegiatan perkuliahan di dalam kelas, peserta juga harus mengikuti kegiatan kunjungan lapangan (field trip). Salah satunya adalah kunjungan lapangan ke Proyek Pengendalian Banjir Kota (Gemeente) Nijmegen Provinsi Gelderland.

 Wilayah negara Kerajaan Belanda memiliki luas kurang lebih sama dengan luas Provinsi Jawa Barat digabung dengan Provinsi Banten. Terdiri atas 13 Provinsi namun memiliki pemerintahan kota (Gemeente) sebanyak 393 kota. Salah satunya adalah Kota Nijmegen yang berdekatan dengan perbatasan negara Jerman dan merupakan kota yang berumur lebih dari 2.000 tahun (termasuk kota tertua).

 Dalam kunjungan ke proyek pengendalian banjir di Nijmegen, mahasiswa diajak untuk dilihat proyek yang diberi nama Ruimte voor de Waal (Ruangan untuk Sungai Waal). Seperti halnya permasalahan sebagian kota di Belanda adalah banjir karena sebagian besar kota terletak di bawah permukaan laut. Contohnya kota tempat saya kuliah, Delft terletak 5 m di bawah permukaan laut (-5 m dpa). 

 Sungai Waal yang membelah kota Nijmegen dan memiliki hulu di Jerman secara periodik sering mebanjiri pemukiman kota. Karena itu pemerintah Belanda merelokasi dam penahan banjir yang sudah ada sehingga kapasitas penampungan air menjadi besar dari yang semula 15.000m3/detik menjadi 16.000m3/detik yang selanjutnya dapat mengurangi resiko banjir.

 Proyek ini dimulai tahun 2000 dan berakhir pada awal 2016 dengan memakan biaya 358 juta Euro atau sekitar 5 trilyun rupiah. Walaupun dimulai tahun 2000 namun pekerjaan fisiknya baru dimulai pada tahun 2013.

 Rentang waktu antara tahun 2000 sampai dengan 2012 digunakan untuk perencanaan dan pemindahan penduduk (resettlement). Rentang waktu yang cukup panjang untuk perencanaan karena perencanaan yang dilakukan sangat detil dan menyeluruh. Adapun masalah pembebasan lahan tidak terlalu bermasalah karena memang pemukiman yang sudah ada memiliki resiko banjir sehingga penduduk cenderung untuk pindah.

 Pada proyek ini, mahasiswa ditunjukkan bagaimana penilaian dampak lingkungan menjadi faktor penentu karena pemerintah Belanda berkeinginan setiap kegiatan pembangunan harus berkelanjutan (sustainable). Sebagai contoh dampak pembangunan terhadap habitat ikan dan burung di sekitar lokasi proyek turut dijadikan bahan pertimbangan, selain tentunya polusi udara dan tanah, seismik proyek, air permukaan dan air tanah dan lain sebagainya.

 Contoh lain, di lokasi proyek ditemukan benda-benda arkeologis seperti pohon yang berumur 7.000 tahun. Fakta ini kemudian menjadi  faktor penentu bagaimana proyek ini akan dibangun.

 Sebenarnya ukuran-ukuran yang ada dalam menilai kegiatan pembangunan infrastruktur terlebih yang skala besar, sebagian besar sudah dikenal di Indonesia, namun dalam implementasinya belum sepenuhnya memperhitungkan konsekuensi jangka panjang.

 Agar pembangunan berkelanjutan, semua faktor yang menentukan berkelanjutan harus ikut dinilai tidak boleh ditinggalkan. Itu sebabnya pemerintah Belanda ketika membangun jembatan dengan standarisasi bahwa jembatan tersebut harus bertahan 100 tahun.  

 Selain ke proyek pengendalian banjir di Nijmegen, mahasiswa juga diajak untuk berkunjung ke Otoritas Air Rivierenland (Watershcap Rivierenland). Diseluruh Belanda ada 12 otoritas air  yang melayani 393 kota. Otoritas Air Rivierenland melayani 41 gemeente atau kota termasuk kota Nijmegen.

 Pada dasarnya ada 3 tugas otoritas air, yaitu pengendalian banjir (flood control), monitoring kualitas air, pengelolaan air limbah industri dan rumah tangga serta ijin pemanfaatan air (air tanah dan air permukaan).

 Hal ini agak berbeda dengan di Indonesia pada umumnya. Pengendalian banjir biasanya ditangani oleh Dinas PU. Untuk monitoring kualitas air dan pengelolaan air limbah (Waste Water Management) menjadi tanggungjawab Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah. Sedangkan untuk ijin pemanfaatan air tanah dikeluarkan oleh Dinas Pertambangan.

 Dalam kesempatan presentasi, Kepala Otoritas Air Rivierenland menyampaikan bahwa mereka berupaya menyediakan air dengan harga murah tapi dengan kualitas yang memenuhi standar kesehatan. Disampaikan pula bahwa semua air yang keluar dari keran air di seantero belanda dapat diminum langsung. Bahkan dia sesumbar bahwa air yang digunakan untuk menyiram WC (flush) pada dasarnya juga layak minum.

 Di samping itu, Waterschaap Rivierenland (otoritas air Rivierenland) juga bertugas memonitor dan mengendalikan banjir. Seperti sudah disampaikan sebelumnya hampir seluruh kota-kota utama di Belanda terletak di bawah permukaan air laut. Kurang lebih 50% daratan Belanda terletak lebih dari 1 meter di atas permukaan laut sedangkan sisanya memiliki ketinggian 1 meter di bawah permukaan laut. Mungkin itu asal muasal kata Netherlands yang berarti dataran rendah (low land).

 Satu hal yang membuat penarasan selama kursus ini adalah bagaimana suatu bangsa dengan luas wilayah sebesar Jawa Barat - Banten, dihantui masalah banjir setiap saat serta pernah dijajah oleh Spanyol, Prancis dan diduduki Jerman pada Perang Dunia II kemudian dapat unggul dan berkembang menjadi bangsa yang sangat dikenal akan kehandalan teknologi tata guna air dan perencanaan perkotaan. Terlebih lagi Belanda dengan segala keterbatasannya tersebut dapat menjadi eksportir utama bunga dan susu ke seantero Eropa.

 Nampaknya ini pelajaran berharga yang patut kita jadikan contoh. Sikap mental yang melihat semua kekurangan dan keterbatasan hari ini menjadi sebuah peluang dan keunggulan di masa yang akan datang.

 Bahwa hari ini kita memiliki banyak kekurangan itu adalah sebuah fakta. Namun di sisi lain kita pun harus yakin bahwa Allah SWT Maha Adil, beserta kekurangan tentunya ada kelebihan pula yang Dia berikan. Keyakinan ini harusnya menjadikan kita percaya diri dalam menghadapi permasalahan dan selalu berpikir kreatif untuk menyelesaikannya terlebih apabila hal tersebut menyangkut kepentingan orang banyak.

 Rasanya kita tidak harus makan keju dan minum susu setiap hari untuk bisa seperti itu.

 Den Haag, Mei 2015. Zaldi Dhuhana