Diprakirakan wilayah Indonesia, khususnya wilayah Banten dan DKI Jakarta, pada bulan Juni hingga Agustus 2015, khususnya yang dipengaruhi oleh kondisi musim (wilayah ZOM) akan mulai mengalami penurunan intensitas hujan dan masih berada pada sifat normal. Prospek Cuaca pada bulan Juni hingga Agustus 2015 untuk wilayah DKI Jakarta dan Banten diprakirakan memiliki kondisi cerah dan cerah berawan serta berpotensi hujan ringan pada malam hari.

Berdasarkan data yang diolah dari Data Prakiraan Curah Hujan yang dirilis oleh Stasiun Klimatologi Pondok Betung Tangerang dalam Buletin BMKG, pada bulan Juni diprakirakan wilayah Serang Barat, sebagian Serang Utara dan sebagian Serang Selatan mengalami hujan dengan intensitas menengah (101-150mm). Sedangkan Wilayah Serang Timur dan Tengah sudah memasuki kondisi dengan curah hujan rendah (51-100mm dan 21-50mm).

 Memasuki bulan Juli, beberapa wilayah mengalami kenaikan intensitas curah hujan di beberapa wilayah. Pada peta hal ini ditunjukkan dengan menghilangnya daerah yang mengalami curah hujan dengan intensitas rendah 21-50 mm dan pengurangan wilayah yang mengalami curah hujan dengan intensitas rendah 51-100 mm. Namun demikian kenaikan intensitas curah hujan ini tidak cukup signifikan bahkan diperkirakan masih dibawah curah hujan yang dibutuhkan untuk pertanaman padi yaitu > 200 mm per bulan selama 4 bulan berturut-turut.

Daerah yang berwarna abu-abu adalah lokasi sawah tadah hujan seluas kurang lebih 21.805,60 ha. Berdasarkan prakiraan curah hujan BMKG lokasi-lokasi dengan warna abu-abu sepanjang bulan Juni – Agustus disarankan kepada para petani untuk tidak menanam padi dalam rangka menghindari resiko puso.

 Sebagai alternatif usaha, disarankan untuk menanam palawija khususnya tanaman jagung dan kedele untuk wilayah-wilayah yang masih memiliki sumber air dalam jumlah terbatas atau tidak sebanyak untuk tanaman padi. Tanaman hortikultura sayuran dapat pula menjadi alternatif usaha budidaya dalam menghadapi kondisi penurunan curah hujan.

 Pada bulan Agustus, terjadi penurunan curah hujan yang cukup drastic. Lebih dari 50% wilayah Kabupaten Serang mengalami curah hujan dengan intensitas rendah 21-50 mm. Sebagian Serang Selatan mengalami curah hujan 51-100 mm dan hanya sebagian kecil wilayah Serang yang mendapat hujan dengan intensitas sedang 101-150 mm.

Prakiraan curah hujan agustus ini sekaligus menjadi indikasi bahwa pertanaman padi yang ditanam pada bulan Juli seandainya tidak tersedia sumber air lain memiliki kemungkinan puso. Karena itu kepada petugas tingkat kecamatan, Ka.UPTD PKPP, Koordinator Penyuluh, Penyuluh dan POPT untuk dapat menginformasikan prakiraan ini kepada Kelompok Tani Kabupaten Serang.

Berdasarkan data capaian luas tanam sampai dengan bulan Juni minggu III, realisasi luas tanam baru mencapai 64,39% atau tersisa 33.659 ha target yang harus dicapai dari sasaran seluas 94.452 ha luas tanam padi.

 Sasaran luas tanam ini menjadi target capaian periode Juli – September. Sementara pada saat yang bersamaan curah hujan sudah sangat berkurang. Konsekuensinya areal yang dapat ditanami padi juga ikut berkurang.

Berdasarkan realisasi tanam periode Maret – Juni, jumlah luasan standing crops periode tersebut adalah seluas 16.664 ha. Dengan jumlah luas baku lahan sawah 48.698,51 ha, maka areal yang tersedia untuk dapat ditanami padi adalah seluas 32.040,51 ha. Ada selisih sebesar  1.618,49 ha dari sisa sasaran luas tanam periode April – September.

Adapun neraca ketersediaan lahan untuk komoditi padi per kecamatan sampai dengan bulan Juni adalah sebagaimana tabel berikut.

  Dengan mengacu kepada neraca ketersediaan lahan sampai dengan bulan Juni dan melihat kepada capaian luas tanam sampai dengan Minggu 2 bulan Juni maka perlu dilakukan revisi sasaran tanam tahun 2015.

Bila tidak dilakukan revisi sasaran luas tanam maka strategi untuk mempertahankan tingkat produksi adalah dengan peningkatan produktivitas dan penekanan tingkat kehilangan hasil yang lebih besar untuk meng-offset penurunan luas tanam.

Hal ini diperparah dengan adanya rencana gilir giring jalur Bendungan Pamarayan Timur karena ada perbaikan pipa PDAM di desa Ketos. Gilir giring ini paling tidak mempengaruhi pengairan di 3 kecamatan, yaitu Kibin, Carenang dan Tanara. Paling tidak ada sekitar 1.295 ha tanaman padi (standing crops) yang bakal terpengaruh. Terlebih jadwal gilir giring ini akan berlangsung sampai dengan bulan Oktober.

Terkait hal itu diusulkan skenario peningkatan produktivitas untuk beberapa program peningkatan produksi padi sebagaiman pada tabel berikut. Dengan skenario ini pun dengan jumlah penduduk Kabupaten Serang sekitar 1,48 juta, masih mungkin diperoleh surplus sebesar 58.901 ton gabah kering giling pada akhir tahun 2015.

Di samping itu untuk mengurangi dampak berkurangnya suplai air dan resiko padi puso perlu diupayakan beberapa langkah berikut:

  • Penerapan pengairan intermittent untuk menghemat pemakaian air – syaratnya pintu air harus berfungsi
  • Penggunaan benih umur genjah atau situ bagendit yang bisa digunakan untuk lahan kering
  • Penambahan sumur air tanah dangkal SATD di lokasi-lokasi yang pertanamannya sudah cukup luas (>50 ha)
  • Peningkatan luas tanam jagung dan kedele untuk meningkatkan peluang pendapatan petani dan produksi jagung dan kedelai               

Untuk mengurangi tingkat kehilangan hasil yang mencapai 19% mulai dari proses panen hingga penggilingan, DPKPP telah mengalokasikan bantuan power thresher, mini combine harvester dan rice milling unit disamping untuk meningkatkan mutu gabah. Tapi karena jumlah unit yang diberikan kepada petani tidak terlalu besar jumlahnya dibandingkan luas sawah yang ada dan kebiasaan petani penurunan tingkat kehilangan hasil ini belum memberikan dampak yang signifikan secara agregat tapi efektif untuk lokasi yang mendapat bantuan.

Pada kondisi ini bantuan benih untuk menanggulangi kekeringan tidak akan berpengaruh besar karena lahan tadah hujan tidak mungkin berproduksi paling tidak sampai dengan bulan Oktober. Zaldi.