Pada hari minggu akhir bulan April, walalupun suhu masih di bawah 70 C tapi matahari bersinar cukup cerah. Karena itu saya dan teman dari Nepal memutuskan untuk pergi ke Keukenhof.

Rheema Tamrakar dari Nepal ini, keluarganya termasuk yang terkena bencana gempa bumi di Kathmandu beberapa waktu yang lalu. Walaupun keluarganya selamat, namun mereka harus tinggal di tenda penampungan. Dia berharap kunjungan ke Keukenhof ini dapat sejenak melupakan masalah yang dihadapi keluarganya.

Dari tempat kami menginap di Student Hotel Den Haag, kami berjalan kaki sekitar 10 menit ke stasiun kereta Den Haag Holland Spoor dan mengambil jurusan Leiden dengan menggunakan kereta api listrik. Selanjutnya dari Leiden Centraal menggunakan bis ke Keukenhof, Lisse. Waktu perjalan sekitar 1 jam.

Sampai di Keukenhof, ternyata antrian pengunjung sudah seperti ular naga panjangnya, maklum selain hari minggu juga cuaca cukup cerah. Pada tahun 2015 ini, Keukenhof menciptakan rekor pengunjung terbanyak, 1.175.000 pengunjung dalam 8 minggu. Keukenhof hanya buka tiap tahun mulai dari akhir Maret hingga pertengahan Mei. Jadi ternyata keunggulan kompetititf (competitive advantage) tidak harus berarti berbunga atau berbuah sepanjang musim.

Untungnya gerai tiket yang tersedia cukup banyak sehingga walaupun padat merayap dengan membeli tiket sebesar € 16,- (sekitar Rp 232.000,-) kita dapat menikmati 7 juta bunga dari 800 jenis atau varietas.

Keukenhof sendiri berarti Taman Dapur (Kitchen Garden) yang didirikan pada abad XV oleh Jacoba van Beieren. Taman ini sendiri awalnya didirikan untuk kebutuhan dapur Puri (Castle) Teylingen. Itu sebabnya pada masa awal hanya ditanami buah-buahan dan sayuran.

Setelah mengalami perubahan beberapa kali termasuk pernah di disain oleh arsitek landskap Belanda terkenal Jan David Zocher tahun 1857, 20 exportir bibit bunga berniat menjadikan Keukenhof sebagai tempat untuk pameran produk mereka pada tahun 1949.

Saat ini lebih dari 100 perusahaan bunga dan lebih dari 500 pembudidaya bunga (Growers) menjadikan Keukenhof sebagai katalog hidup produk bunga mereka. Termasuk salah satu bunga yang dipamerkan di Rumah Kaca (Green House) adalah bunga nasional Indonesia, Anggrek.

Begitu kita memasuki areal taman, mata kita langsung disuguhi bunga warna-warni, berbaris teratur berjajar rapih. Sangat kontras dengan pemandangan sehari-hari dari tempat menginap – stasiun kereta –kampus dan sebaliknya ketika sore hari.

Saat itu pula saya dan Rheema mendadak jadi foto model sekaligus fotografer secara bergantian. Walaupun sebagian besar bunga yang ditanam adalah Tulip, Daffodil, dan Hyacinth namun dengan ratusan warna dan bentuk rasanya tidak bosan untuk terus berfoto dengan latar belakang bunga.

Sesekali terdengar orang yang berbicara dengan bahasa Melayu. Saya pun memberanikan diri untuk menyapa. Rasanya menyenangkan dapat bertemu orang sekampung di tanah rantau.

Setelah berjalan beberapa saat melewati barisan bunga yang ditanam dalam barisan yang menarik, kami sampai di Paviliun Juliana. Di Paviliun ini pengunjung dapat melihat informasi tentang berbagai jenis umbi bunga Tulip dan informasi jadwal pameran. Pengunjung pun dapat membeli umbi berbagai jenis bunga terutama Tulip yang menjadi salah satu ikon nasional Belanda.

Ternyata Keukenhof tidak hanya berisi bunga-bunga saja, pengelola juga membangun beberapa paviliun di dalam taman sebagai pusat informasi, souvenir, galeri seni, rumah kaca dan taman bermain. Ada 5 paviliun yang dinamai berdasarkan nama raja dan ratu Belanda.

Puas melihat-lihat informasi di Paviliun Juliana, kami meneruskan perjalanan ke arah utara. Di bagian ini ada Paviliun Wilhelmina. Posisi pavilion yang bersebelahan dengan kolam menjadikan tempat ini cocok untuk tempat makan karenanya berjajar café-café dan toko souvenir khas Keukenhof.

Ditempat ini Rheema sempat sejenak berfoto di tengah kolam sambil terus melanjutkan perjalanan ke pavilion Willem-Alexander. Di paviliun ini, selain dipamerkan berbagai karya seni dengan tema bunga seperti lukisan dengan berbagai aliran, ada juga souvenir-souvenir. Setiap tahun Keukenhof mengusung tema yang berbeda. Untuk tahun 2015 tema yang dipakai adalah Van Gogh, pelukis pasca-imperialis Belanda. Karena itu karya seni yang dipamerkan pun bertemakan Van Gogh juga. Selain itu ada pula tanaman hias dalam pot. Yang mengagetkan ternyata banyak tanaman hias yang dipajang adalah tanaman hias tropis termasuk anggrek. Walaupun suhu udara di luar berkisar kurang dari 70 Celsius, dengan rekayasa iklim mikro sedemikian rupa, tanaman tropis dapat tumbuh dan berkembang.

Walaupun belum puas mengagumi isi yang ada di Paviliun ini, kami memutuskan untuk berfoto di bawah kincir angin (wind mill) bagian timur taman yang dibatasi oleh sungai dan dilengkapi dengan wahana perahu wisata. Tadinya kami berdua merencanakan untuk naik perahu dan masuk ke wind mill. Melihat antrian pengunjung yang panjang akhirnya kami putuskan untuk istirahat sejenak sambil makan bekal makanan ringan yang dibawah dari hotel. Maklum kami sudah berjalan sekitar 3 jam.

Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali ke arah pintu masuk. Selain melihat bunga tulip yang ditanam dan dipagari mirip dengan tempat tidur bayi, langkah kami terhenti ketika sampai pada lokasi kandang ternak. Lokasi ini didisain sedemikian rupa sehingga mirip dengan kandang aslinya dan diisi dengan hewan-hewan ternak seperti ayam, sapi, kambing, kelinci dan lain sebagainya. Mungkin karena pengunjungnya sebagian besar orang urban/kota, mereka terlihat antusias berfoto dan menggendong hewan ternak tersebut. Wahana yang mirip di Indonesia adalah Baby Zoo di Taman Safari Bogor.

Kembali kami bertemu dengan pavilion yaitu Oranye van Nassau setelah meninggalkan area kandang ternak. Di pavilion ini bunga di tanam dalam sebuah area layaknya taman kastil pada zaman dahulu.

Setelah keluar area taman, sambil menunggu bis yang kembali ke Leiden Centraal, kami berdiskusi tentang kesan yang diperoleh dari kunjungan hari itu sambil makan bekal makan siang dengan lahap karena sudah mengelilingi areal seluas 32 ha. Tidak salah bila dikatakan Keukenhof merupakan taman bunga terbesar di dunia. ZD.

Sudah merupakan keniscayaan Pulau Jawa menjadi pusat perkembangan ekonomi dan industri terutama bagi kota satelit metropolitan. Kabupaten Serang merupakan salah satu wilayah penyuplai produk pertanian sekaligus juga lokasi industri alternatif ketika harga tanah di seputaran Jakarta melambung tinggi. Dengan adanya akses jalan tol Jakarta – Merak, transportasi bahan baku, bahan setengah jadi ataupun produk akhir dari dan ke Kabupaten Serang sudah bukan merupakan masalah berarti.

Karakteristik Kabupaten Serang yang seperti ini, seperti juga wilayah lain dengan permasalahan serupa, menjadi pertemuan antara pertanian dan industri. Akibatnya terjadi konflik kepentingan penggunaan lahan khususnya wilayah Serang Timur-Utara yang merupakan lokasi jalur utama Bendung Pamarayan.

Terlebih lagi, Jalan tol Jakarta-Merak terletak di wilayah pantura yang faktanya merupakan daerah persawahan dominan irigasi. Selain itu, pada masa orde baru, dalam upaya melancarkan arus barang dan jasa antara wilayah pertanian dan perkotaan, infrastruktur transportasi di wilayah ini sudah relatif mapan dan lebih baik dibandingkan dengan wilayah pertanian sawah non-irigasi. Keunggulan wilayah sawah irigasi ini pada saat yang bersamaan menjadi daya tarik bagi pihak industri untuk menempatkan lokasi pabriknya di wilayah ini.

Dan sudah menjadi hal yang lumrah, pembangunan pabrik hampir bisa dipastikan akan diikuti dengan pengembangan perumahan dan sarana penunjang lainnya di sekitar pabrik tersebut. Akibatnya benturan antara wilayah pertanian dan industri semakin mengemuka.

Pada tahun 2014, seiring dengan telah diterbitkannya Perda Provinsi Banten no. 4 tahun 2014 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, DPKPP Kabupaten Serang telah menginisiasi pemetaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Dilanjutkan dengan pemetaan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan pada tahun 2015 bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

Pemetaan ini tidak dimaksudkan untuk memperuncing konflik penggunaan lahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya namun untuk mengendalikan laju alih fungsi lahan sehingga penggunaan lahan tersebut dapat dioptimalkan dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan semua elemen masyarakat khususnya masyarakat pertanian.

Berdasarkan pemetaan LP2B, untuk memenuhi kebutuhan beras penduduk Kabupaten Serang sampai dengan tahun 2034 dengan mempertimbangkan berbagai variabel seperti pertumbuhan jumlah penduduk, konsumsi per kapita, laju produktivitas, alih fungsi lahan dan sebagainya, diperoleh dua skenario yaitu skenario optimis dan skenario pesimis.

Dalam skenario pesimis (laju peningkatan produktivitas rendah, ancaman kekeringan dan banjir, laju alih fungsi lahan yang tinggi, dsb) maka lahan sawah yang harus dipertahankan hingga tahun 2034 adalah 37.176,26 ha. Sedangkan bila menggunakan skenario optimis, lahan sawah yang harus dipertahankan adalah 21.489,30 ha.

Sedangkan pemetaan lahan cadangan dimaksudkan apabila untuk kepentingan umum sesuai UU no. 2 tahun 2012 dan berakibat lahan sawah tersebut harus dialihfungsikan maka sudah dialokasikan wilayah untuk calon penggantinya (sesuai UU no. 41 tahun 2009 dan PP no. 1 tahun 2011) dengan mempertimbangkan sumber air, kesesuaian jenis tanah, kemiringan, dan lain-lain.

Untuk menyebarluaskan informasi ini kepada masyarakat, pada tahun ini juga DPKPP Kab. Serang sedang mengkonstruksi Sistem Informasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) berbasis Geoserver.

Dengan sistem informasi ini, masyarakat dapat mengakses lokasi LP2B dan cadangannya melalui website dinas (http://disperta.serangkab.go.id) dengan hanya memasukkan koordinat lokasi atau memasukkan nama kampung dan desa. Melalui sistem ini, pihak-pihak yang akan menggunakan lahan atau mengeluarkan izin penggunaan lahan dapat mengecek status lahan sawah tanpa harus mengirimkan surat permintaan survey ke DPKPP seperti yang selama ini sudah terjadi. Diharapkan pada akhir tahun 2015 sistem ini sudah rampung.

Sekaligus juga pada tahun 2016 sudah dianggarkan untuk pembuatan Peraturan Daerah Kabupaten Serang tentang LP2B dan cadangannya sehingga semakin menguatkan upaya optimalisasi penggunaan lahan (land use) bagi kepentingan masyarakat di Kabupaten Serang menuju menuju masyarakat yang berdaulat pangan. Zaldi.