Dodi R, S.PKP. Ka. UPTD PTP Kec. Cikande

Latar Belakang

Sebagian besar lahan pertanian intensif (terutama lahan sawah) di Indonesia telah mengalami degradasi kualitas kesuburannya. Degradasi kualitas kesuburan lahan adalah suatu proses kemunduran produktivitas lahan menjadi lebih rendah, baik sementara maupun tetap, sehingga pada akhirnya lahan tersebut dapat menuju ke tingkat kekritisan tertentu (Sitorus, S; 2008).

Degradasi lahan berdasarkan proses terjadinya dapat dikelompokkan menjadi : (1) degradasi non erosif, yaitu merupakan kerusakan tanah in situ yang dapat merupakan proses degradasi kimia tanah atau fisika tanah (2) degradasi erosif, yaitu berhubungan dengan pemindahan bahan atau material tanah, seperti erosi oleh kekuatan air dan angin. Degradasi lahan pertanian meliputi 3 (tiga) aspek, yaitu aspek fisik. kimia dan biologi.

Pepaya merupakan salah satu komoditas buah yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Produksi pepaya selama lima tahun terakhir termasuk dalam kelompok lima besar produksi buah-buahan dan buah ini tersedia sepanjang tahun. Secara agroklimat, Saat ini produksi komoditas pepaya yang sedikit tidak sebanding dengan permintaan yang semakin meningkat. Apalagi untuk sekarang ini telah dikembangkan beberapa varietas pepaya IPB 9 (Calina) yang unggul dan mampu memenuhi selera konsumen serta dengan peningkatan teknologi produksi. Selain itu, tanaman pepaya sebagai komoditas hortikultura memiliki prospek bisnis yang tinggi sehingga lebih dikaitkan pada kegiatan agroindustri.