Sebaran Alsintan Traktor

 

Sebaran Pompa Air

 

Sebaran Paddy Transplanter

 

Sebaran Combine Harvester

 

Sebaran Dryer Padi/Jagung


 

Tanggal 21 Pebruari 2017, Pengurus Komunitas Penggilingan Padi dan Beras Mandiri (KPPBM) dan Kadistan Kabupaten Serang, Ir. H. Dadang Hermawan bersama Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura menyelenggarakan pertemuan dengan perwakilan pengelola penggilingan padi se-Kabupaten Serang di Aula Dinas Pertanian.

Dalam pertemuan tersebut diundang pula PT Indo Beras Unggul (IBU), Subdivre Bulog Serang, dan PT Agro Serang Berkah (anak perusahaan BUMD).

Dengan melihat luas tanam pada bulan Desember, diperkirakan panen padi pada bulan Maret paling sedikit mencapai 37.138 ha ha atau 80% dari luas lahan sawah se-Kabupaten Serang.

Berdasarkan informasi dari pengelola penggilingan padi anggota KPPBM Kabupaten Serang, harga gabah khususnya dari daerah Banten Selatan anjlok hingga Rp 2.800/kg. Harga gabah yang rendah ini terutama disebabkan kualitas gabah panen yang turun akibat curah hujan yang tinggi. Sementara untuk wilayah Kabupaten Serang, harga GKP masih berkisar Rp 3.800 – Rp 4.000/kg. Harga gabah di Kabupaten Serang saat ini masih di atas HPP GKP yaitu Rp 3.700,-

Dari kondisi ini, untuk mempertahankan mutu dan harga gabah, instalasi dryer (pengering) merupakan solusi utama khususnya dalam menghadapi curah hujan yang tinggi seperti pada tahun 2016.

Untuk efisiensi, pengadaan dryer harus minimal berkapasitas 15 ton dengan bahan bakar sekam. Bantuan dryer selama ini dengan kapasitas maksimum 7 ton bagi kelompok tani pengelola penggilingan dianggap kurang efisien. Biaya tetap antara 7 ton, 15 ton ataupun 30 ton tidak berbeda signifikan tapi memakan waktu yang lebih lama bila dihitung per kg karena waktu start, loading, dan pembersihan relatif sama namun dengan kapasitas yang berbeda. Dengan kapasitas angkut satu mobil 10 ton gabah, dryer kapasitas dibawah itu akan terjadi inefisiensi waktu dan biaya.

Terkait dengan persiapan menghadapi panen raya bulan Maret, turunnya harga gabah akibat panen yang berlimpah akan berujung pada menurunnya pendapatan yang diterima petani penggarap dan bahkan mengalami kerugian.

Atas alasan itu, Dinas Pertanian memfasilitasi pertemuan antara pengelola penggilingan padi sebagai penampung gabah dari petani dengan PT IBU dan Bulog Subdivre Serang sebagai produsen beras.

Pada tahun 2016, KPPBM telah menjadi vendor GKP dan GKG untuk PT IBU namun pengiriman bahan baku tersebut masih terbatas di wilayah Serang Utara (Pantura). Di tahun 2017, setelah ada perwakilan kecamatan, suplai gabah ke PT IBU diharapkan dapat berasal dari seluruh Kabupaten Serang.

Dari penjelasan Tim PT IBU, penurunan kualitas gabah terutama karena penanganan yang terlalu lama di lapangan khususnya untuk pemanenan dengan perontokan manual tanpa alat. Dengan kebiasaan ini gabah dapat menginap 1 atau 2 hari di lapangan. Terlebih pada musim hujan seperti saat ini, kualitas gabah akan lebih cepat menurun dan gabah seperti ini tidak dapat dijadikan beras premium.

Karena itu TIM PT IBU berharap petani sudah harus menggunakan mekanisasi pasca panen, minimumnya dengan power thresher 3 outlet/pintu. Lebih baik lagi bila menggunakan Combine Harvester.  Standar kerja yang disyaratkan adalah mulai panen hingga pengiriman hingga tiba di PT IBU di Cikarang atau PT JSR di Jatisari Subang memakan waktu tidak lebih dari 1 hari untuk menjaga kualitas gabah sebagai bahan baku beras premium.

Tim PT IBU yang dipimpin  Deni menyebutkan bahwa salah satu permasalahan bahan baku yang diterima adalah gabah yang terlalu cepat dipanen (<95 hari). Hal ini dipahami sebagai upaya beberapa petani yang tidak bertanggungjawab untuk meningkatkan bobot beras. Akibatnya kadar beras chalky (kapur) menjadi tinggi dan dipastikan tidak akan lolos persyaratan mutu.

Mendukung hal ini, Direktur Utama PT ASB, Dr. Ir. Robi Ramli juga mengingatkan peserta untuk tidak memakai pestisida yang mengandung etilen (karbit). Pemakaian bahan ini memang membuat gabah cepat menguning namun pada dasarnya belum cukup umur.

Terkait dengan kadar air gabah, beliau juga menyampaikan bahwa akhir Maret 2016, akan terpasang dryer 2 unit dengan kapasitas masing-masing 17 ton. Dryer ini nantinya juga dapat membantu pengeringan gabah petani hingga kadar air layak simpan (14-14,5%).

Tentunya persyaratan ketat yang diminta PT IBU juga diimbangi dengan harga beli. Selama tahun 2016, harga gabah rata-rata di Kabupaten Serang berkisar Rp 3.800/kg. Pada saat yang sama, KPPBM mengirim gabah kering panen ke PT IBU dibeli dengan harga rata-rata Rp 4.700/kg. Hal ini merupakan salah satu strategi menjaga harga dasar gabah tidak turun terlalu jauh.

Strategi lain adalah dengan bermitra dengan Bulog Subdivre Serang. Dalam pertemuan tersebut Bulog siap untuk mengadakan kontrak kerjasama dengan KPPBM, baik untuk gabah, beras ataupun beras premium walaupun saat ini diutamakan adalah untuk pengadaan gabah kualitas medium.

Dalam pertemuan ini, Bulog Subdivre Serang juga menyampaikan tentang standar gabah dan beras serta harga yang diterima oleh Bulog. Disampaikan pula bahwa Bulog hendak memperbaiki standar bahan baku yang diterima dan untuk ini Bulog berharap petani juga memahami dan dapat mengikuti standar tersebut.

Dengan pola ini, penggilingan padi anggota KPPBM mulai belajar untuk mengembangkan sistem pengelohan pasca panen dan meng-grading produk mereka serta mengelola pemasarannya. Kepastian penjualan dengan nilai yang tinggi oleh pengelola penggilingan padi akan mendorong petani memanen gabah sesuai standar yang diminta karena petani menerima harga yang lebih baik.

Harga produk yang lebih tinggi akan memacu petani untuk meningkatkan luas tanam dan produktivitasnya. Dan berikutnya akan terjadi pemanfaatan lahan  optimal dan percepatan penyerapan anjuran teknologi yang secara nyata meningkatkan produktivitas.

Mungkin ini salah satu cara membalas jasa petani setelah mereka bersusah payah berjuang meningkatkan luas tambah tanam. Merekalah pejuang UPSUS sesungguhnya. zd