Berbeda dengan analisis prakiraan hujan pada periode 3 bulan-an sebelumnya yang menampilkan curah hujan (mm), pada prakiraan curah hujan periode Juli – September penekanan analisisnya pada sifat hujan yang membagi kategori atas Bawah Normal (BN), Normal (N) dan Atas Normal (AN).

Dengan perkiraan curah hujan yang masih tinggi, pendekatan analisis dengan sifat hujan akan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan curah hujan karena presisi tidak diperlukan mengingat semua wilayah akan menerima curah hujan di atas curah hujan minimum yang dibutuhkan untuk komoditi padi, jagung dan kedele.

 Pada bulan Juli, sebagian besar wilayah Kabupaten Serang, khususnya Serang Timur dan sebagian Serang Barat Laut akan mengalami hujan dengan sifat atas normal (AN) yang cenderung tinggi. Sedangkan Serang bagian tengah dan sedikit bagian Utara diperkirakan akan mengalami sifat hujan AN agak tinggi. Sementara Kecamatan Cinangka, sebagian Anyer dan Padarincang akan mengalami hujan normal (N). Pada bulan ini diperkirakan luas areal padi yang dapat ditanami mencapai 8.125,08 ha.

Memasuki bulan Agustus, terjadi pergeseran wilayah curah hujan. Curah hujan normal berpindah ke wilayah Serang Barat Daya. Sementara itu sifat hujan yang diperkirakan juga mengalami peningkatan sehingga beberapa wilayah akan mengalami sifat hujan AN yang sangat tinggi (hijau tua). Pada bulan ini, seluruh wilayah Kabupaten Serang masih dapat ditanami padi dan berdasarkan data spasial lahan sawah, areal yang dapat ditanami tidak kurang dari 13.340,98 ha.

 Ketika bulan September, diperkirakan terjadi penurunan curah hujan di seluruh wilayah Kabupaten Serang. Daerah yang mengalami hujan dengan sifat Normal (N) semakin meluas dan pada saat yang sama wilayah yang mengalami Atas Normal (AN) semakin menyempit dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Areal yang masih dapat ditanami padi pada bulan ini sekitar 18.415,90 ha.

 Sampai dengan akhir Juni, luas tanam sudah mencapai 31.302 Ha dari target tanam periode April – September seluas 49.183 Ha atau sekitar 63.64%. Bila melihat kepada luas wilayah yang mengalami hujan di atas normal (AN) dan sasaran tanam bulan Juli, Agustus dan September 2016, realisasi tanam diperkirakan akan melampaui target yang telah ditetapkan. Luas baku lahan sawah dikurangi dengan estimasi luas tanam awal bulan menunjukkan bahwa sawah yang tersedia lebih besar dari sasaran tanam.

 

Intensitas Serangan Penyakit

Dengan kondisi cuaca kemarau basah seperti ini, komoditi padi sawah rentan terhadap serangan OPT terutama penyakit. Dan kondisi ini sudah dimulai sejak di persemaian, dan ini sering tidak disadari oleh petani.

Pada curah hujan di atas normal, terjadi banyak spot-spot genangan air yang berlebihan terutama pada lokasi sawah dengan drainase yang buruk. Akibatnya kelembaban di bawah kanopi menjadi lebih tinggi dan merupakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan jamur dan bakteri, terutama Hawar Daun, Bacterial Leaf Streak, Blas, Hawar Pelepah, Busuk Batang dan penyakit bercak daun.

Genangan air selain membuat pertumbuhan akar tidak sehat dan pertumbuhan anakan tidak maksimal juga membuat tanah lebih masam terlebih dengan penggunaan pupuk Urea yang tinggi. Akibatnya pH menjadi turun dan mendorong pertumbuhan jamur.

Dalam kegiatan monitoring di beberapa lokasi ditemukan Bacterial Leaf Streak dan Hawar Daun yang ditemukan di persemaian dan di pertanaman umur kurang dari sebulan. Diduga penyakit ini sudah terbawa sejak dari benih (seed borne) dan ketika kondisi kelembaban dan suhu ideal, bakteri ini mulai muncul. Ini juga merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan dengan Program Desa Mandiri Benih, menghasilkan benih yang bermutu dan berkualitas serta varietas yang bernilai tinggi di pasar.

Rebah yang terjadi di Kabupaten Serang pada musim panen padi bulan april yang lalu dalam skala luas diduga selain karena kekurangan unsur mikro Si (silica) yang berpengaruh terhadap kekuatan batang padi, juga dimungkinkan karena hawar pelepah (sheath blight) yang menyerang pada saat fase anakan sampai menjelang panen. Penyakit yang disebabkan jamur Rhizoctonia solani menyerang pelepah sehingga tanaman mudah rebah. Fungisida berbahan aktif Difenokonazol ataupun yang organik berbahan aktif Genoldirachtin dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit ini

 

Peningkatan Produktivitas - Perluasan Tanam – Pengamanan Hasil Produksi

Program peningkatan produksi pada dasarnya dapat dicapai dengan tiga strategi utama, peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam dan pengamanan hasil produksi. Tiga strategi ini tidak dapat dipisahkan karena ketiganya secara simultan akan meningkatkan produksi

Namun demikian perlu dilakukan pertimbangan efektivitas tiga strategi ini sehingga pada setiap wilayah akan memiliki prioritas yang berbeda terhadap tiga strategi ini.

Kabupaten Serang dengan wilayah Sawah yang menghadapi ancaman alih fungsi untuk industri dan perumahan dan pengurangan tenaga kerja untuk tanam dan panen, bantuan transplanter dan harvester merupakan hal yang tepat khususnya untuk daerah pantai utara. Hal ini tidak berlaku di Serang Selatan dengan kontur lahan sawah yang berbukit.

Tapi tidak berarti bahwa dengan dilengkapi alsintan yang memadai kemudian bisa dipastikan bahwa petani akan langsung memutuskan untuk menanam. Kendala ekonomi, sosial dan teknis pengairan merupakan determinan utama dalam memutuskan untuk menanam.

Pada kondisi ini, peningkatan produktivitas untuk mengejar target produksi menjadi sangat penting. Cara berpikirnya adalah bagaimana petani dapat meningkatkan produktivitasnya secara signifkan. Karena Pemerintah Daerah harus secara serius mendorong penggunaan teknologi yang terbukti bisa meningkatkan produktivitas hingga diatas 9 ton/ha baru dapat dikatakan bahwa peningkatan produktivitas dapat meng-offset peningkatan luas tanam yang tidak tinggi akibat faktor sosial, ekonomi dan pengairan.

Pada saat yang bersamaan, produktivitas 9 ton/ha ini juga akan mampu melepaskan petani dari jeratan hutang rentenir dengan catatan prioritas belanja setelah menerima uang hasil panen adalah untuk pembelian saprodi musim tanam berikutnya baru digunakan untuk keperluan lain.

Dari hasil pengamatan di lapangan, untuk mendorong petani terus mengejar angka luas tanam dan produktivitas tinggi, kuncinya adalah di harga gabah yang tinggi. Perlu dirumuskan trans-subsidi dari pupuk ke gabah. ZD


 

Ada teori yang menyebutkan bahwa manusia bereaksi positif terhadap insentif. Jadi pada umumnya manusia akan tertarik terhadap segala hal yang memberikan keuntungan buat dirinya. Yang membedakan antara manusia satu dan lainnya adalah definisi dan batasan keuntungan serta upaya untuk meraih keuntungan tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengalokasikan bantuan sarana produksi komoditi jagung dan kedele untuk petani di tahun 2016 berupa bantuan benih, alat tanam, dan pupuk dalam rangka mendukung swasembada padi jagung dan kedele.

Dengan adanya bantuan ini, petani seharusnya langsung respon bila melihat peluang pasar jagung (terutama untuk pakan ternak yangn akan menunjang swasembada daging dan telur) dan kedele yang masih terbuka luas. Namun kenyataannya selama beberapa tahun luas angka tanam jagung dan kedele belum beranjak naik secara signifikan.

Hasil analisis dan peninjauan ke lapangan menunjukkan bahwa faktor pamasaran merupakan kendala utama. Petani secara perorangan memiliki luas lahan garapan dan modal terbatas sulit untuk memproduksi jagung dan kedele dengan skala besar dan melakukan proses pasca panen lebih lanjut.

Bila melihat kepada kasus pedagang pengumpul gabah (baca: tengkulak), asumsi ini mendekati kebenaran. Selain faktor budaya, petani selalu memprioritaskan komoditi padi bila lahan memungkinkan untuk ditanami karena penjualan gabah tidak perlu proses lebih lanjut atau kalalupun ada dengan teknologi sederhana yang mereka kuasai dan langsung dibayar kontan di lokasi berapapun volumenya. Pembentukan tata niaga yang mendekati model padi inilah yang harus dibangun.

Dalam hal praktek budidaya, pada dasarnya petani sudah mengenal untuk komoditi jagung dan kedele sehingga hal ini bukan kendala utama kecuali perlu diintroduksi praktek yang intensif untuk meningkatkan produktivitas. Fenomena ini yang terjadi di Kabupaten Serang pada umumnya.

Mensikapi hal ini, agar bantuan pemerintah dapat berdaya guna optimal, diadakan pertemuan untuk memberikan gambaran pemasaran jagung dan kedele yang sesuai karakteristik petani di Serang yang diselenggarakan di Aula Kodim 0602/Serang.

Selain babinsa Kodim 0602/Serang, hadir pula Ka.UPTD Pertanian Kecamatan, Penyuluh Pertanian Lapangan dan babinsa Kodim 0623/Cilegon sebagai peserta. Tujuannya agar petugas pertanian lapangan didampingi oleh TNI-AD dapat memotivasi petani untuk meningkatkan luas pertanamannya dengan pendekatan tata niaga yang sesuai karakteristik petani.

Pertemuan yang dihadiri Dandim 0602/Serang, Kepala DKPP Kab. Serang, dan Kepala BP2KP Kab. Serang, menghadirkan pula pembicara dari Komunitas Pengrajin Tahu Tempe Oncom “Sumber Rejeki Barokah”, Tata Winata dari Cikeusal dan Doktor Robi Ramli beserta Ibu Erwan.

Maulana Fikri dari Komunitas Pengrajin menyampaikan kepada petugas bahwa mereka siap menampung biji kedele kering sampai dengan 25 ton per hari dengan harga Rp 5.000. Dalam kesempatan yang sama, hal senada disampaikan pula oleh Tata Winata perihal kesiapan menampung hasil panen jagung petani baik dalam bentuk pipil atau tongkol kering.

Doktor Robi Ramli dari Komunitas Petani Mandiri pada kesempatan ini juga memotivasi petugas dan babinsa mengenai pasar ikutan (by product) atau limbah dari pengolahan kedele dan jagung.

Dengan adanya pemaparan ini, diharapkan petugas pertanian tingkat kecamatan didampingi babinsa tidak perlu ragu lagi untuk meyakinkan petani bahwa komoditi jagung dan kedele sudah memiliki pasar yang baik dan mau menanam terutama untuk areal-areal lahan kering ataupun sawah tadah hujan di akhir musim hujan. Terlebih pula Ibu Bupati Serang telah menyampaikan bahwa bila masyarakat membutuhkan beliau siap untuk memfasilitasi lahan-lahan tidur milik perusahaan untuk digunakan masyarakat petani di Kabupaten Serang.

Petani pun harus terus didorong untuk mengusahakan multi-komoditi untuk mengurangi resiko kerugian. Dengan adanya-multi-komoditi, resiko kerugian disatu komoditi dapat ditutupi dari keuntungan komoditi lain. Padi yang terkena serangan hama sehingga produksi rendah dapat ditutupi dari keuntungan jagung, kedele, atau komoditi sayuran, peternakan atau perikanan.

Upaya Kementerian Pertanian dalam mengendalikan impor jagung pipilan kering tampaknya mulai menampakkan hasil. Pemasaran jagung pipilan kering atau tongkol kering sudah bukan kendala lagi bahkan pedagang pengumpul sudah banyak yang mendatangi petani. Pada kondisi ini petani perlu didorong untuk bisa mengolah hasil panennya sesuai standar pabrik dan dapat mengelola produksi jagung anggotanya sehingga dapat langsung menjual ke pabrik pakan.

Diharapkan dengan strategi pemasaran yang spesifik petani khususnya komoditi jagung dan kedele, bantuan dari Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dapat menjadi daya dorong yang nyata dalam mengentaskan kebodohan dan jeratan hutang petani penggarap dan keluarganya. ZD