PT Mercu Buana Rice Mills

Pada awal Mei, Kadis DPKPP Ir. H. Dadang Hermawan, Kabid Pertanian Ir. Puji Astuti,MM dan Tim Tanaman Pangan mengajak 7 orang pemilik penggilingan padi ke Pabrik Beras PT Mercu Buana Rice Mill (anak perusahaan grup Probosutedjo) di Sumedang Jawa Barat bersama dengan Pembina Komunitas Petani Mandiri, Dr.Ir. Robi Romli dan Istri.

Dalam kunjungan ini, tim diterima langsung oleh Direktur MBRM Supratman dan anak beliau, Bisma. Termasuk hadir pula dalam acara ini Burhanudin, Sekjen Perpadi (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia).

 Dalam diskusi dengan pak Supratman, pelaku usaha penggilingan padi dari Kabupaten Serang diwakili oleh H. Hamid dan H. Hariri dari Pontang, H. Anis Fuad, H. Safiudin, dan Kodiman dari Kramatwatu, Asep dari Cikande, dan Junaidi dari Tanara mencoba menggali permasalahan utama yang dihadapi oleh pabrik dengan kapasitas produksi beras kurang lebih 200 ton per hari.

PT MBRM menerapkan pemasaran multi chanelling karena selain menggarap pasar bulog juga menjadi pemasok restoran dan supermarket. Dan yang menjadi kendala utama adalah kontuinitas dan mutu bahan baku gabah. Sementara PT MBRM tidak bergerak di on-farm sehingga bahan baku tidak bisa dikendalikan akibatnya dalam upaya memenuhi market yang ada, PT MBRM me-mix bahan baku sehingga diperoleh komposisi yang sesuai dengan standar konsumen. Ini merupakan kelebihan PT MBRM yang setiap akan memasarkan produknya selalu membuat campuran / mix baru beras dari beberapa varietas dengan berbagai standar mutu. Pabrik yang juga memproduksi beras premium, beras organik dan beras merah ini juga mengolah limbah dedak sebagai bahan baku pakan ternak.

Setelah itu tim juga diajak mengunjungi pabrik PT MBRM. Pabrik dengan teknologi tinggi ini tentunya butuh waktu 1 dasawarsa bagi pelaku penggilingan padi Kabupaten Serang untuk menyamai. Tapi ada hal lain yang penting yang bisa dipelajari selain teknologi tinggi yang dipakai yaitu sistem pengelolaan pabrik mulai dari suplai bahan baku hingga pemasaran produk. Pada titik inilah pelaku penggilingan padi Kabupaten Serang ini belajar.

Dari sisi bisnis, pelaku penggilingan padi yang memiliki petani binaan diharapkan dapat menjadi supplier gabah bagi PT Mercu Buana Rice Mill.

 

Komunitas Penggilingan Padi dan Beras Mandiri (KPPBM)

Hasil kunjungan ke PT Mercubuana menjadi bahan diskusi diantara tujuh pengusaha rice mills dan sebulan kemudian pembicaraan ini mengkristal menjadi sebuah ide besar. Tepat tanggal 30 Mei 2016, tujuh pengusaha rice mills ini bersatu dan bergabung membentuk Komunitas Penggilingan Padi dan Beras Mandiri atau disingkat KPPBM.

Komunitas yang telah berbadan hukum ini bertujuan mewadahi pemilik penggilingan, pelaku usaha, dan produsen padi dan beras, baik perseorangan, kelompok dan/atau institusi berbadan hukum ataupun tidak yang memiliki keinginan untuk memajukan industriberas yang berbasiskan potensi lokal dengan tujuan mensejahterakan petani.

Dalam pemilihan pengurus oleh formatur, terpilih sebagai ketua H. Safiudin, sekretaris H. Hariri, bendahara H. Hamid, Ketua Bidang Produksi Asep, Ketua Bidang Pasca Panen Junaidi, Ketua Bidang Pemasaran H. Anis Fuad dan Ketua Bidang Jasa Lainnya Kodiman.

Bidang produksi berfungsi untuk mengorganisasikan penggilingan padi anggota KPPBM dalam memproduksi gabah, beras atau husked rice (beras pecah kulit) termasuk di dalamnya menjadwal pertanaman dan panen, membuat standar kerja on-farm, dan membantu pengadaan saprodi untuk areal sawah garapan penggilingan padi anggota KPPBM.

Bidang pasca panen bertugas menetapkan standar penanganan pasca panen dan mengontrol prosesnya, mengawasi pembelian dari petani binaan, mengkoordinasikan transportasi dan pencetakan label.

Bidang pemasaran bertujuan untuk mencari pasar hasil produksi KPPBM, baik itu beras W3, W2, W1 ataupun premium dan melakukan kerjasama dengan pihak industri, hotel, restoran, rumah sakit dan lain sebagainya.

Sedangkan Bidang Jasa Lainnya menjadi penunjang tiga bidang yang lain, yaitu pemanfaatan limbah hasil olahan Rice Mills seperti dedak, menjalin kemitraan dengan pabrik alsintan sebagai distributor spare part alat penggilingan padi dan usaha perbaikan dan pemeliharaan alat dan mesin.

Beberapa waktu yang lalu, pengurus KPPBM mengajak penggilingan padi yang ada di Kabupaten Serang untuk bergabung dalam KPPBM dengan tujuan untuk menyatukan potensi dalam membeli gabah dan memasarkan beras pecah kulit ataupun beras premium. Dari pertemuan ini bergabung 50 penggilingan padi dari seluruh Kabupaten Serang.

Diharapkan pada bulan Juli, Ibu Bupati Serang berkenan melantik pengurus dan anggota KPPBM sebagai wujud sinergi antara organisasi masyarakat dan pemerintah daerah. Dalam AD/ART KPPBM, Ibu Bupati Serang juga didaulat sebagai pelindung organisasi mengingat kepedulian beliau terhadap pertanian.

Ternyata kabar ini tersebar dengan sangat cepat. Pelaku penggilingan dari Kota Serang dan Kabupaten Pandeglang sudah menyatakan keinginannya untuk ikut berkiprah di KPPBM.

Terlebih beberapa saat yang lalu, pengurus KPPBM telah bertemu dengan pabrikan pasca panen padi Huansha dan bisa memperoleh alat dengan metode pembayaran leasing. Jadi ke depannya KPPBM diharapkan mampu menggerakkan semua sektor yang terlibat dalam produksi dan pengolahan padi menuju Industri Beras Modern.

  

Pertemuan dengan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.

Pada minggu ke-III bulan Juni, PT Tiga Pilar Sejahtera atau disingkat PT TPS Food bertemu dengan KPPBM yang difasilitasi oleh Dr.Ir. Robi Ramli dan Kadis DPKPP Kabupaten Serang Ir. H. Dadang Hermawan. Turut hadir perwakilan dari Distanak Prov. Banten, Momod Syafrudin,SP.,MM.

Perusahaan yang memproduksi Beras Maknyus dan Ayam Jago, Bihunku dan Snack Taro ini bertemu dengan KPPBM dalam rangka menjajagi kerjasama bahan baku gabah, beras pecah kulit ataupun beras premium. PT TPS Food dalam kesempatan ini diwakili oleh Pak Tjoa Hook Wie dan Pak Ferry Kwok sebagai person in charge dalam pembelian bahan baku.

Pak Wie dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa pabrik mereka yang ada di 5 lokasi seluruh Indonesia membutuhkan bahan baku lebih dari 40.000 ton setiap bulan. Untuk menjaga suplai mereka menghendaki KPPBM dapat menyuplai secara kontinyu dengan kualitas yang telah ditetapkan oleh pabrik.

Bahkan di masa depan, beliau berharap beras premium yang dijual dalam satu varietas yang terjaga mutunya dan bukan beras mixing seperti yang terjadi selama ini. Sistem yang mampu memasok beras atau pecah kulit dengan standar tinggi karena untuk kelas premium inilah yang akan dibangun oleh KPPBM.

KPPBM menyadari bahwa tidak ada seorang pun secara individu yang dapat memenuhi pasar raksasa ini, tapi lain halnya bila seluruh penggilingan padi di Kabupaten Serang bersatu dengan kualitas dan standar yang sama maka pasar-pasar besar ini tentunya dapat di penuhi.

Harga beras atau husked rice yang tinggi pada gilirannya akan ikut mendongkrak harga gabah di tingkat petani karena sejak awal misi KPPBM bukan hanya ingin meraih untung tapi juga maju bersama. Bila harga gabah sudah stabil di tingkat yang tinggi, perkara luas tambah tanam ataupun peningkatan produktivitas bukan perkara sulit untuk diwujudkan. Hal ini akan menjadi sesuatu hal yang otomatis terlaksana karena petani akan terpacu untuk terus berproduksi.

Selain itu, usaha tani padi menjadi bisnis yang high profit akibatnya nilai tanah untuk padi sawah pun ikut meningkat dan pada gilirannya akan menurunkan laju alih fungsi lahan sawah. Akibatnya sumber daya produksi beras sebagai makanan pokok masyarakat tetap lestari.

Hasilnya masyarakat memperoleh beras dengan kualitas baik dan harga terjangkau serta petani mampu meningkatkan taraf hidupnya dan keluar dari lingkaran kebodohan dan kemiskinan. ZD.

Terima kasih kepada Dr.Ir. Robi Romli, Pak Wie, Pak Ferry, Ir. H. Dadang Hermawan, Pak Supratman (MBRM), Burhanudin (Perpadi) dan Teman-teman KPPBM. 

 


 

Berbeda dengan analisis prakiraan hujan pada periode 3 bulan-an sebelumnya yang menampilkan curah hujan (mm), pada prakiraan curah hujan periode Juli – September penekanan analisisnya pada sifat hujan yang membagi kategori atas Bawah Normal (BN), Normal (N) dan Atas Normal (AN).

Dengan perkiraan curah hujan yang masih tinggi, pendekatan analisis dengan sifat hujan akan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan curah hujan karena presisi tidak diperlukan mengingat semua wilayah akan menerima curah hujan di atas curah hujan minimum yang dibutuhkan untuk komoditi padi, jagung dan kedele.

 Pada bulan Juli, sebagian besar wilayah Kabupaten Serang, khususnya Serang Timur dan sebagian Serang Barat Laut akan mengalami hujan dengan sifat atas normal (AN) yang cenderung tinggi. Sedangkan Serang bagian tengah dan sedikit bagian Utara diperkirakan akan mengalami sifat hujan AN agak tinggi. Sementara Kecamatan Cinangka, sebagian Anyer dan Padarincang akan mengalami hujan normal (N). Pada bulan ini diperkirakan luas areal padi yang dapat ditanami mencapai 8.125,08 ha.

Memasuki bulan Agustus, terjadi pergeseran wilayah curah hujan. Curah hujan normal berpindah ke wilayah Serang Barat Daya. Sementara itu sifat hujan yang diperkirakan juga mengalami peningkatan sehingga beberapa wilayah akan mengalami sifat hujan AN yang sangat tinggi (hijau tua). Pada bulan ini, seluruh wilayah Kabupaten Serang masih dapat ditanami padi dan berdasarkan data spasial lahan sawah, areal yang dapat ditanami tidak kurang dari 13.340,98 ha.

 Ketika bulan September, diperkirakan terjadi penurunan curah hujan di seluruh wilayah Kabupaten Serang. Daerah yang mengalami hujan dengan sifat Normal (N) semakin meluas dan pada saat yang sama wilayah yang mengalami Atas Normal (AN) semakin menyempit dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Areal yang masih dapat ditanami padi pada bulan ini sekitar 18.415,90 ha.

 Sampai dengan akhir Juni, luas tanam sudah mencapai 31.302 Ha dari target tanam periode April – September seluas 49.183 Ha atau sekitar 63.64%. Bila melihat kepada luas wilayah yang mengalami hujan di atas normal (AN) dan sasaran tanam bulan Juli, Agustus dan September 2016, realisasi tanam diperkirakan akan melampaui target yang telah ditetapkan. Luas baku lahan sawah dikurangi dengan estimasi luas tanam awal bulan menunjukkan bahwa sawah yang tersedia lebih besar dari sasaran tanam.

 

Intensitas Serangan Penyakit

Dengan kondisi cuaca kemarau basah seperti ini, komoditi padi sawah rentan terhadap serangan OPT terutama penyakit. Dan kondisi ini sudah dimulai sejak di persemaian, dan ini sering tidak disadari oleh petani.

Pada curah hujan di atas normal, terjadi banyak spot-spot genangan air yang berlebihan terutama pada lokasi sawah dengan drainase yang buruk. Akibatnya kelembaban di bawah kanopi menjadi lebih tinggi dan merupakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan jamur dan bakteri, terutama Hawar Daun, Bacterial Leaf Streak, Blas, Hawar Pelepah, Busuk Batang dan penyakit bercak daun.

Genangan air selain membuat pertumbuhan akar tidak sehat dan pertumbuhan anakan tidak maksimal juga membuat tanah lebih masam terlebih dengan penggunaan pupuk Urea yang tinggi. Akibatnya pH menjadi turun dan mendorong pertumbuhan jamur.

Dalam kegiatan monitoring di beberapa lokasi ditemukan Bacterial Leaf Streak dan Hawar Daun yang ditemukan di persemaian dan di pertanaman umur kurang dari sebulan. Diduga penyakit ini sudah terbawa sejak dari benih (seed borne) dan ketika kondisi kelembaban dan suhu ideal, bakteri ini mulai muncul. Ini juga merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan dengan Program Desa Mandiri Benih, menghasilkan benih yang bermutu dan berkualitas serta varietas yang bernilai tinggi di pasar.

Rebah yang terjadi di Kabupaten Serang pada musim panen padi bulan april yang lalu dalam skala luas diduga selain karena kekurangan unsur mikro Si (silica) yang berpengaruh terhadap kekuatan batang padi, juga dimungkinkan karena hawar pelepah (sheath blight) yang menyerang pada saat fase anakan sampai menjelang panen. Penyakit yang disebabkan jamur Rhizoctonia solani menyerang pelepah sehingga tanaman mudah rebah. Fungisida berbahan aktif Difenokonazol ataupun yang organik berbahan aktif Genoldirachtin dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit ini

 

Peningkatan Produktivitas - Perluasan Tanam – Pengamanan Hasil Produksi

Program peningkatan produksi pada dasarnya dapat dicapai dengan tiga strategi utama, peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam dan pengamanan hasil produksi. Tiga strategi ini tidak dapat dipisahkan karena ketiganya secara simultan akan meningkatkan produksi

Namun demikian perlu dilakukan pertimbangan efektivitas tiga strategi ini sehingga pada setiap wilayah akan memiliki prioritas yang berbeda terhadap tiga strategi ini.

Kabupaten Serang dengan wilayah Sawah yang menghadapi ancaman alih fungsi untuk industri dan perumahan dan pengurangan tenaga kerja untuk tanam dan panen, bantuan transplanter dan harvester merupakan hal yang tepat khususnya untuk daerah pantai utara. Hal ini tidak berlaku di Serang Selatan dengan kontur lahan sawah yang berbukit.

Tapi tidak berarti bahwa dengan dilengkapi alsintan yang memadai kemudian bisa dipastikan bahwa petani akan langsung memutuskan untuk menanam. Kendala ekonomi, sosial dan teknis pengairan merupakan determinan utama dalam memutuskan untuk menanam.

Pada kondisi ini, peningkatan produktivitas untuk mengejar target produksi menjadi sangat penting. Cara berpikirnya adalah bagaimana petani dapat meningkatkan produktivitasnya secara signifkan. Karena Pemerintah Daerah harus secara serius mendorong penggunaan teknologi yang terbukti bisa meningkatkan produktivitas hingga diatas 9 ton/ha baru dapat dikatakan bahwa peningkatan produktivitas dapat meng-offset peningkatan luas tanam yang tidak tinggi akibat faktor sosial, ekonomi dan pengairan.

Pada saat yang bersamaan, produktivitas 9 ton/ha ini juga akan mampu melepaskan petani dari jeratan hutang rentenir dengan catatan prioritas belanja setelah menerima uang hasil panen adalah untuk pembelian saprodi musim tanam berikutnya baru digunakan untuk keperluan lain.

Dari hasil pengamatan di lapangan, untuk mendorong petani terus mengejar angka luas tanam dan produktivitas tinggi, kuncinya adalah di harga gabah yang tinggi. Perlu dirumuskan trans-subsidi dari pupuk ke gabah. ZD