Ada teori yang menyebutkan bahwa manusia bereaksi positif terhadap insentif. Jadi pada umumnya manusia akan tertarik terhadap segala hal yang memberikan keuntungan buat dirinya. Yang membedakan antara manusia satu dan lainnya adalah definisi dan batasan keuntungan serta upaya untuk meraih keuntungan tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengalokasikan bantuan sarana produksi komoditi jagung dan kedele untuk petani di tahun 2016 berupa bantuan benih, alat tanam, dan pupuk dalam rangka mendukung swasembada padi jagung dan kedele.

Dengan adanya bantuan ini, petani seharusnya langsung respon bila melihat peluang pasar jagung (terutama untuk pakan ternak yangn akan menunjang swasembada daging dan telur) dan kedele yang masih terbuka luas. Namun kenyataannya selama beberapa tahun luas angka tanam jagung dan kedele belum beranjak naik secara signifikan.

Hasil analisis dan peninjauan ke lapangan menunjukkan bahwa faktor pamasaran merupakan kendala utama. Petani secara perorangan memiliki luas lahan garapan dan modal terbatas sulit untuk memproduksi jagung dan kedele dengan skala besar dan melakukan proses pasca panen lebih lanjut.

Bila melihat kepada kasus pedagang pengumpul gabah (baca: tengkulak), asumsi ini mendekati kebenaran. Selain faktor budaya, petani selalu memprioritaskan komoditi padi bila lahan memungkinkan untuk ditanami karena penjualan gabah tidak perlu proses lebih lanjut atau kalalupun ada dengan teknologi sederhana yang mereka kuasai dan langsung dibayar kontan di lokasi berapapun volumenya. Pembentukan tata niaga yang mendekati model padi inilah yang harus dibangun.

Dalam hal praktek budidaya, pada dasarnya petani sudah mengenal untuk komoditi jagung dan kedele sehingga hal ini bukan kendala utama kecuali perlu diintroduksi praktek yang intensif untuk meningkatkan produktivitas. Fenomena ini yang terjadi di Kabupaten Serang pada umumnya.

Mensikapi hal ini, agar bantuan pemerintah dapat berdaya guna optimal, diadakan pertemuan untuk memberikan gambaran pemasaran jagung dan kedele yang sesuai karakteristik petani di Serang yang diselenggarakan di Aula Kodim 0602/Serang.

Selain babinsa Kodim 0602/Serang, hadir pula Ka.UPTD Pertanian Kecamatan, Penyuluh Pertanian Lapangan dan babinsa Kodim 0623/Cilegon sebagai peserta. Tujuannya agar petugas pertanian lapangan didampingi oleh TNI-AD dapat memotivasi petani untuk meningkatkan luas pertanamannya dengan pendekatan tata niaga yang sesuai karakteristik petani.

Pertemuan yang dihadiri Dandim 0602/Serang, Kepala DKPP Kab. Serang, dan Kepala BP2KP Kab. Serang, menghadirkan pula pembicara dari Komunitas Pengrajin Tahu Tempe Oncom “Sumber Rejeki Barokah”, Tata Winata dari Cikeusal dan Doktor Robi Ramli beserta Ibu Erwan.

Maulana Fikri dari Komunitas Pengrajin menyampaikan kepada petugas bahwa mereka siap menampung biji kedele kering sampai dengan 25 ton per hari dengan harga Rp 5.000. Dalam kesempatan yang sama, hal senada disampaikan pula oleh Tata Winata perihal kesiapan menampung hasil panen jagung petani baik dalam bentuk pipil atau tongkol kering.

Doktor Robi Ramli dari Komunitas Petani Mandiri pada kesempatan ini juga memotivasi petugas dan babinsa mengenai pasar ikutan (by product) atau limbah dari pengolahan kedele dan jagung.

Dengan adanya pemaparan ini, diharapkan petugas pertanian tingkat kecamatan didampingi babinsa tidak perlu ragu lagi untuk meyakinkan petani bahwa komoditi jagung dan kedele sudah memiliki pasar yang baik dan mau menanam terutama untuk areal-areal lahan kering ataupun sawah tadah hujan di akhir musim hujan. Terlebih pula Ibu Bupati Serang telah menyampaikan bahwa bila masyarakat membutuhkan beliau siap untuk memfasilitasi lahan-lahan tidur milik perusahaan untuk digunakan masyarakat petani di Kabupaten Serang.

Petani pun harus terus didorong untuk mengusahakan multi-komoditi untuk mengurangi resiko kerugian. Dengan adanya-multi-komoditi, resiko kerugian disatu komoditi dapat ditutupi dari keuntungan komoditi lain. Padi yang terkena serangan hama sehingga produksi rendah dapat ditutupi dari keuntungan jagung, kedele, atau komoditi sayuran, peternakan atau perikanan.

Upaya Kementerian Pertanian dalam mengendalikan impor jagung pipilan kering tampaknya mulai menampakkan hasil. Pemasaran jagung pipilan kering atau tongkol kering sudah bukan kendala lagi bahkan pedagang pengumpul sudah banyak yang mendatangi petani. Pada kondisi ini petani perlu didorong untuk bisa mengolah hasil panennya sesuai standar pabrik dan dapat mengelola produksi jagung anggotanya sehingga dapat langsung menjual ke pabrik pakan.

Diharapkan dengan strategi pemasaran yang spesifik petani khususnya komoditi jagung dan kedele, bantuan dari Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dapat menjadi daya dorong yang nyata dalam mengentaskan kebodohan dan jeratan hutang petani penggarap dan keluarganya. ZD


 

Tak kenal maka tak sayang, ungkapan ini sering kita dengar untuk menunjukkan pentingnya mengenali sesuatu agar dapat memahaminya, termasuk pekerjaan meningkatkan produksi beras nasional yang menjadi “pabrik”-nya adalah lahan sawah.

Dalam rangka meningkatkan pengenalan lahan padi sawah sehingga dapat mengidentifikasi lokasi dan berikutnya dapat membuat pemetaan yang akan digunakan untuk perencanaan produksi, Tim Tanaman Pangan dibantu Andi Sukman,S.Hut,M.Sc. dan Edwin Nugraha,S.Hut,MM. melaksanakan pelatihan pemetaan jaringan irigasi dan posisi alsintan khususnya di lahan padi sawah.

Pelatihan ini ditujukan untuk Ka.UPTD Kecamatan, Penyuluh Pertanian Kecamatan dan Babinsa dari Kodim 0602/Serang dan Kodim 0623/Cilegon dengan jumlah 84 orang dan dibagi atas beberapa tahap.

Pada tahap pertama peserta dilatih untuk menggunakan alat GPS untuk memetakan jaringan irigasi dan posisi alsintan.

Tahap berikutnya, adalah bagaimana hasil pendataan dengan alat GPS dapat diinput ke perangkat lunak pengolah peta. Pada tahap ini peserta dilatih menggunakan software pengolah peta dengan menggunakan laptop dan mengolah hasil input tersebut untuk dapat memberikan informasi jaringan irigasi dan posisi alsintan.

Tahap terakhir adalah mengkompilasi semua data yang telah diolah tersebut menjadi sebuah peta yang terintegrasi minimal untuk tingkat kecamatan.

Seiring dengan meningkatnya dampak perubahan iklim, anomali cuaca sering ditemui dalam beberapa tahun belakangan ini. Akibatnya pergeseran jadwal tanam merupakan hal yang jamak terjadi.

Perubahan jadwal tanam ini tidak hanya mempengaruhi areal sawah tadah hujan tapi juga areal sawah irigasi Bendung Pamarayan. Berbeda dengan bendungan yang merupakan reservoir air, bendung adalah bangunan yang dipergunakan untuk meninggikan muka air di sungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak tersier.

Jadi bangunan bendung memiliki sumber air yang sama dengan aliran sungai bagian hulunya. Akibatnya penurunan debit air di daerah hulu akan ikut menurunkan kemampuan bendung mengalirkan air ke saluran irigasi. Itu sebabnya pula sedimentasi sering dtemui di bendung.

Musim kering tahun 2015 yang berlangsung mulai bulan Juni hingga bulan November merupakan contoh kasus ketika debit bendung Pamarayan sedemikian kecil hingga air tidak sampai ke saluran primer Serang Barat sehingga sering ditemui areal sawah irigasi tidak dapat ditanami sama sekali.

Sebaliknya, banyak pula sawah tadah hujan yang harusnya pada musim kemarau kemarin tidak dapat berproduksi pada kenyataannya masih dapat ditanami karena memiliki sumber air lain. Dalam kondisi seperti ini adalah hal yang mungkin bila dikatakan sawah irigasi hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun sebaliknya sawah tadah hujan dapat ditanami tiga kali dalam setahun.

Anomali iklim yang mengakibatkan perubahan status lahan sawah ini perlu dipetakan kembali sehingga perencanaan pola tanam dan panen dapat lebih mendekati kondisis sebenarnya. Hal inilah yang menjadi titik penting pelatihan pemetaan untuk petugas pertanian kecamatan dan TNI-AD mengingat keduanya merupakan ujung tombak pelaksanaan UPSUS dalam mencapai swasembada Pangan.

Sedangkan pemetaan posisi alsintan khususnya traktor, pompa air, transplanter, power thresher, RMU dan combine harvester bertujuan untuk mengetahui distribusi dan efektivitas alsintan termasuk rencana realokasi sementara bila dibutuhkan seperti ketika menghadapi musim kering yang berkepanjangan. Harapannya di masa yang akan dating tidak terjadi lagi penumpukan bantuan pemerintah pada satu lokasi.

Keahlian yang diperoleh diharapkan juga dapat digunakan untuk keperluan lain yang mendukung kegiatan pertanian. Salah satunya adalah pengawasan LP2B yang rencananya akan ditetapkan melalui peraturan daerahnya pada akhir April 2016.

Selain itu, keahlian ini dapat digunakan untuk pemetaan komoditi lain seperti Jagung, Kedelai, komoditi hortikultura, peternakan dan perkebunan. Semoga pelatihan ini dapat menjadikan petugas lebih memahami tugasnya dan berikutnya semakin “sayang" dengan pekerjaannya yang pada akhirnya dapat membantu usaha petani dalam meningkatkan produksinya. ZD