Tak kenal maka tak sayang, ungkapan ini sering kita dengar untuk menunjukkan pentingnya mengenali sesuatu agar dapat memahaminya, termasuk pekerjaan meningkatkan produksi beras nasional yang menjadi “pabrik”-nya adalah lahan sawah.

Dalam rangka meningkatkan pengenalan lahan padi sawah sehingga dapat mengidentifikasi lokasi dan berikutnya dapat membuat pemetaan yang akan digunakan untuk perencanaan produksi, Tim Tanaman Pangan dibantu Andi Sukman,S.Hut,M.Sc. dan Edwin Nugraha,S.Hut,MM. melaksanakan pelatihan pemetaan jaringan irigasi dan posisi alsintan khususnya di lahan padi sawah.

Pelatihan ini ditujukan untuk Ka.UPTD Kecamatan, Penyuluh Pertanian Kecamatan dan Babinsa dari Kodim 0602/Serang dan Kodim 0623/Cilegon dengan jumlah 84 orang dan dibagi atas beberapa tahap.

Pada tahap pertama peserta dilatih untuk menggunakan alat GPS untuk memetakan jaringan irigasi dan posisi alsintan.

Tahap berikutnya, adalah bagaimana hasil pendataan dengan alat GPS dapat diinput ke perangkat lunak pengolah peta. Pada tahap ini peserta dilatih menggunakan software pengolah peta dengan menggunakan laptop dan mengolah hasil input tersebut untuk dapat memberikan informasi jaringan irigasi dan posisi alsintan.

Tahap terakhir adalah mengkompilasi semua data yang telah diolah tersebut menjadi sebuah peta yang terintegrasi minimal untuk tingkat kecamatan.

Seiring dengan meningkatnya dampak perubahan iklim, anomali cuaca sering ditemui dalam beberapa tahun belakangan ini. Akibatnya pergeseran jadwal tanam merupakan hal yang jamak terjadi.

Perubahan jadwal tanam ini tidak hanya mempengaruhi areal sawah tadah hujan tapi juga areal sawah irigasi Bendung Pamarayan. Berbeda dengan bendungan yang merupakan reservoir air, bendung adalah bangunan yang dipergunakan untuk meninggikan muka air di sungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak tersier.

Jadi bangunan bendung memiliki sumber air yang sama dengan aliran sungai bagian hulunya. Akibatnya penurunan debit air di daerah hulu akan ikut menurunkan kemampuan bendung mengalirkan air ke saluran irigasi. Itu sebabnya pula sedimentasi sering dtemui di bendung.

Musim kering tahun 2015 yang berlangsung mulai bulan Juni hingga bulan November merupakan contoh kasus ketika debit bendung Pamarayan sedemikian kecil hingga air tidak sampai ke saluran primer Serang Barat sehingga sering ditemui areal sawah irigasi tidak dapat ditanami sama sekali.

Sebaliknya, banyak pula sawah tadah hujan yang harusnya pada musim kemarau kemarin tidak dapat berproduksi pada kenyataannya masih dapat ditanami karena memiliki sumber air lain. Dalam kondisi seperti ini adalah hal yang mungkin bila dikatakan sawah irigasi hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun sebaliknya sawah tadah hujan dapat ditanami tiga kali dalam setahun.

Anomali iklim yang mengakibatkan perubahan status lahan sawah ini perlu dipetakan kembali sehingga perencanaan pola tanam dan panen dapat lebih mendekati kondisis sebenarnya. Hal inilah yang menjadi titik penting pelatihan pemetaan untuk petugas pertanian kecamatan dan TNI-AD mengingat keduanya merupakan ujung tombak pelaksanaan UPSUS dalam mencapai swasembada Pangan.

Sedangkan pemetaan posisi alsintan khususnya traktor, pompa air, transplanter, power thresher, RMU dan combine harvester bertujuan untuk mengetahui distribusi dan efektivitas alsintan termasuk rencana realokasi sementara bila dibutuhkan seperti ketika menghadapi musim kering yang berkepanjangan. Harapannya di masa yang akan dating tidak terjadi lagi penumpukan bantuan pemerintah pada satu lokasi.

Keahlian yang diperoleh diharapkan juga dapat digunakan untuk keperluan lain yang mendukung kegiatan pertanian. Salah satunya adalah pengawasan LP2B yang rencananya akan ditetapkan melalui peraturan daerahnya pada akhir April 2016.

Selain itu, keahlian ini dapat digunakan untuk pemetaan komoditi lain seperti Jagung, Kedelai, komoditi hortikultura, peternakan dan perkebunan. Semoga pelatihan ini dapat menjadikan petugas lebih memahami tugasnya dan berikutnya semakin “sayang" dengan pekerjaannya yang pada akhirnya dapat membantu usaha petani dalam meningkatkan produksinya. ZD


 

 


Tepat tanggal 6 April, Ibu Bupati Serang, Hj. Ratu Tatu Chasanah,SE.,M.Ak, bersama-sama dengan Ketua DPRD Kabupaten Serang, Kepala Distanak Prov. Banten, Kepala BPTP Prov. Banten, Pasiter Korem 064 Maulana Yusuf, Dandim 0602/Serang, Kepala DPKPP Kab. Serang, Kepala BP2KP Kab. Serang, Kepala PU Kab. Serang, Kepala BPS Kab. Serang Kasubdivre Bulog Serang, PT Pioneer, PT Rutan, PT KMS, PT Cheil Jedang, Ketua KTNA Kab. Serang, Camat Petir, Danramil Petir Kapolsek Petir dan perwakilan kelompok tani jagung Kabupaten Serang melakukan panen raya jagung pipilan kering di desa Sindang Sari Kecamatan Petir.

Turut pula hadir dalam acara yang dinisiasi kerjasama Distanak Prov. Banten dan DPKPP Kab. Serang ini, Dr. Robi Ramli dari Komunitas Petani Mandiri, Tata pelaku usaha pengolahan jagung pipilan kering dan Kosasih, distributor benih jagung.

Lokasi seluas 38 ha yang menjadi tempat acara merupakan lokasi milik PT Karya Mulya Sejahtera (satu grup dengan PT Sari Pakan Feed Mill) yang dipinjamkan kepada Kelompok Tani Bahagia Desa Sindang Sari bekerjasama dengan Koramil Petir.

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam ucapan selamat datang oleh perwakilan Gapoktan Desa Sindang Sari Kecamatan Petir adalah permohonan kepada Ibu Bupati Serang untuk dapat memfasilitasi pemasaran jagung pipilan kering dari poktan atau Gapoktan, mengingat Kabupaten Serang merupakan Kabupaten dengan jumlah pabrik pakan terbanyak di Indonesia (8 feed mill) dengan kebutuhan bahan baku jagung pipilan kering mencapai 250.000 ton per bulan.

Dalam sambutan dan arahan ibu Bupati Serang, menyampaikan bahwa potensi pengembangan jagung pipilan kering masih terbuka luas. Lahan kebun atau perkebunan mencapai 33.294 ha, luas lahan rumput atau tanah kosong sekitar 4.016 ha dan luas tegalan atau ladang 6.422 ha.Belum lagi bila melihat kepada luas sawah tadah hujan yang mencapai 22.000 ha dapat dimanfaatkan untuk budidaya jagung pada akhir musim hujan.

Beliau juga menyampaikan untuk ketersediaan tenaga kerja juga tidak masalah. Sumberdaya petani yang sudah tergabung dalam kelompok tani mencapai 57.394 orang dengan luas garapan 71.294,48 ha.

Namun luas garapan rata-rata petani berkisar antara 0,2 - 0,5 ha dan keterbatasan modal untuk melakukan proses lebih lanjut pemipilan dan pengeringan sulit memenuhi kebutuhan pabrik pakan yang menghendaki jagung dalam kondisi dipipil dan kering kadar air 15% serta pembayaran 14 hari setelah barang masuk ke pabrik pakan.

Karena itu beliau berharap kehadiran pelaku industri pengolahan jagung pipilan kering yang membeli jagung tongkol kering dari petani dengan pembayaran tunai untuk diolah lebih lanjut menjadi pipilan kering sesuai kebutuhan pabrik pakan.

Selain itu Ibu Bupati Serang juga menyampaikan telah meminta kepada Direktur Utama Serang Berkah Mandiri, BUMD Kabupaten Serang, untuk menjajaki investasi dan peluang usaha jagung pipilan kering.

Selaras dengan keinginan Ibu Bupati Serang, dalam sambutannya Kadistanak Prov. Banten, Ir.H. Agus M. Tauchid,M.Si menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Banten siap untuk memfasilitasi bantuan mesin pengering (dryer) dalam upaya mendukung industri pengolahan jagung tongkol kering. Keberadaan industri antara ini akan menciptakan tata niaga jagung pipilan kering yang dapat mendorong kesejahteraan petani.

Dalam kegiatan ini dilaksanakan penandatanganan MOU antara perwakilan GAPOKTAN petani jagung dan pelaku usaha pengolahan jagung yang diwakili Tata dan Kosasih disaksikan oleh Bupati Serang dan Kepala DPKPP Kab. Serang.

Kegiatan simbolis panen jagung yang dipimpin oleh Ibu Bupati Serang diikuti pemanenan dengan Combine Harvester produk PT Rutan dan pemipilan jagung dengan corn sheller.

Disela-sela acara dilaksanakan pula ubinan yang dilakukan oleh Kasi Produksi BPS Kab. Serang, Kasi Produksi Serealia Distanak Prov. Banten  dan Kasi Tan. Pangan DPKPP Kab. Serang. Hasilnya menunjukkan produktivitas 12,49 ton/ha pipil kering.

 

Pengolahan Jagung Pipilan Kering

Pada tahun 2015, Poktan Karya Sejahtera 5 mendapat fasilitas gedung dan dryer jagung bantuan dari Direktorat Pasca Panen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian R.I.

Alat pengering dengan kapasitas 6 ton ini sudah mulai dioperasikan dan mulai menampung penjualan jagung tongkol kering dari petani tidak hanya dari Serang tapi juga dari wilayah Pandeglang.

Nurdiansyah, ketua Poktan menyampaikan bahwa PT Cheil Jedang, feed mill asal Korea, sudah meminta suplai dengan sistem kontrak. Namun permintaan ini belum dapat dipenuhi karena pabrik pakan tersebut mensyaratkan pengiriman jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sebanyak 50 ton per bulan. Sementara Nurdiansyah memiliki keterbatasan modal untuk membeli jagung tongkol dari petani.

Kabupaten Serang juga memiliki pelaku usaha lokal yang menampung jagung pipilan atau tongkol kering dari petani untuk diolah menjadi pakan ternak dengan persyaratan teknis yang lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan yang ditetapkan pabrik pakan. Yang menjadi target pemasarannya adalah peternakan lokal. Namun Tata memiliki kendala untuk dapat pengembangan lebih besar terutama daya tampung gudang dan alat penggilingan (disc mill). Itu sebabnya pengolahan jagung yang bisa dilakukan maksimum 50 ton per musim tanam.

Dalam beberapa kesempatan, Ibu Bupati Serang selalu menyampaikan kepada Kepala DPKPP Kab. Serang untuk mendorong dan memfasilitasi penumbuhan pelaku usaha lokal pengolahan jagung karena beliau yakin dengan pemantapan tata niaga jagung pipilan kering maka petani akan termotivasi untuk menanam jagung yang pada gilirannya akan meningkatkan produksi jagung pipilan kering Kabupaten Serang.

 

Pertemuan Bupati Serang dan MAI untuk Pengembangan Jagung

Beberapa waktu lalu, Dewan Pengurus Nasional Masyarakat Agribinis dan Agroindustri Indonesia (MAI) bertemu dengan Ibu Bupati Serang untuk membicarakan rencana pengolahan jagung dengan tujuan mensuplai kebutuhan jagung pipilan kering ke pabrik pakan.

DPN MAI yang hadir adalah Soetarto Alimoeso (mantan Ka. Bulog dan Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI) dan Maxdeyul Sola yang juga sekretaris Dewan Jagung Nasional didampingi Egi Djanuaswati (pengurus MAI Provinsi Banten) dan Agus M. Tauchid, Kadistanak Prov. Banten.

Turut pula hadir Direktur Utama BUMD Serang Berkah Mandiri, Direktur PT Tri Mitra (pabrikan dryer jagung di Jawilan), Manajer Pemasaran Pioneer, PT Citos Agribisnis Indonesia, Kadis DPKPP Kab. Serang Ir. H. Dadang Hermawan dan Kabid Pertanian Ir. Puji Astuti,MM.

Pada kesempatan DPN MAI menyampaikan rencana pengembangan jagung dengan melibatkan perusahaan swasta dengan sistem Plasma Inti. BUMD Kabupaten Serang sebagai inti dan petani kabupaten serang sebagai plasma. Pada tahap awal diharapkan BUMD dapat mulai mengelola pertanaman jagung 200 ha dan petani 500 ha.

PT Citos Agribisnis Indonesia akan mendampingi BUMD dalam manajemen untuk pengembangan bisnis pengolahan jagung sedangkan PT Tri Mitra akan menjadi konsultan alat dryer jagung.

Dalam acara tersebut Sola sempat menyampaikan rencana pengembangan jagung untuk silase pakan ternak sehubungan dengan akan dijadikannya pelabuhan Bojonegara sebagai pelabuhan internasional dan akan menjadi pintu masuk bibit sapi impor sehingga Kabupaten Serang akan menjadi sentra penggemukan sapi.

Sebenarnya sebagian petani jagung Kabupaten Serang sudah memproduksi tebon jagung yang disuplai ke Lembu Jantan Perkasa (LJP) seperti yang dilakukan poktan di Pabuaran. Pada tahun 2015 poktan ini menanam jagung untuk dijual tebon seluas 5 ha dan tahun 2016 direncanakan meningkat menjadi 20 ha dengan harga jual Rp. 550/kg. Namun data tampung LJP tidak besar hanya 20 ton tebon sehari. Jadi pengembangan jagung tetap berfokus kepada suplai feed mill.

Tampaknya keterlibatan MAI, pengusaha nasional, pelaku usaha lokal, TNI-AD, Pemerintah Provinsi Banten dan terutama Pemerintah Kabupaten Serang akan menjadikan Jagung sebagai ikon Kabupaten Serang di Provinsi Banten yang dapat memenuhi kebutuhan pabrik pakan tinggal selangkah lagi. ZD