A. Moisture Tester (Alat uji kadar air)

Ada beberapa metode mengukur kadar air, yang pertama dengan metode termogravimetri, yaitu dengan menimbang sample sebelum dan sesudah pemanasan, Biasa dilakukan di dalam laboratorium dan metode konduktometri.

Metode yang kedua prinsipnya mengukur konduktivitas sampel yang berbanding linear dengan kadar air. Ada beberapa jenis alat yang dijual di pasaran dengan metode ini

1. Grain moisture tester tipe tekan. Kekurangan alat ini, sampel yang diukur terlalu kecil sehingga memiliki peluang bias namun harga lebih murah

 

2. Grain moisture tester tipe cangkir. Alat ini memiliki presisi yang lebih tinggi karena sampel yang dimuat lebih banyak namun memiliki kekurangan sensor yang digunakan lebih sensitif terhadap perubahan posisi dan harganya mahal

 

 

3. Grain moisture tester tipe tusuk. Alat ini biasanya digunakan untuk mengukur kadar air sampel di dalam karung. Alat ini praktis dan harga lebih murah dibandingkan tipe cangkir tapi kurang sensitif.

 

 

Untuk kadar air biji-bijian seperti gabah ataupun jagung biasanya mensyaratkan kadar air sekitar 14% dengan alasan untuk mengurangi pertumbuhan jamur dalam penyimpanan atau silo. Untuk gabah, kadar air yang terlalu rendah (<12%) dapat mengakibatkan kadar beras patah (broken) tinggi ketika proses penggilingan (milling).

 

B. Alat uji rendemen gabah

Alat ini sebenarnya merupakan mini-milling. Dengan alat ini dapat diketahui rendemen sampel gabah ketika di giling. Pembelian gabah dalam jumlah besar memiliki resiko dimungkinkan terdapat gabah yang tidak bernas yang mempengaruhi rendemen ketika digiling menjadi beras.

Penggunaan alat ini mempermudah pedagang pengumpul atau pengelola penggilingan padi untuk menakar rendemen gabah yang akan dibeli sehingga terhindar dari resiko kerugian

Sampel ditimbang sebelum dan sesudah proses untuk kemudian dihitung rendemennya. Sampel yang digunakan kurang dari 200g dengan prosessing waktu kurang dari 1 menit.

 

 

 C. Alat Uji Derajat Sosoh, Whiteness dan Transparansi

Untuk perusahaan beras yang memiliki segementasi pasar beras premium, gabah kualitas baik yang akan menghasilkan derajat sosoh, whiteness dan transparansi beras yang tinggi menjadi pertimbangan utama dalam pembelian.

Derajat sosoh (milling degree) ditentukan oleh jumlah beras kepala, beras broken dan menir yang dihasilkan setelah proses polishing beras pecah kulit

Derajat putih (Whiteness) diukur dari warna beras. Beras yang disimpan terlalu lama ataupun gabah dengan kadar air tinggi (biasanya panen musim hujan) memiliki warna  yang kusam

Uji transparansi untuk melihat kadar beras chalky (bulir kapur). Biasanya panen belum waktunya menghasilkan beras dengan chalky dibagian tengahnya dan ini mempengaruhi derajat transparansi beras. Penggunaan etilen dalam beberapa pupuk dan pestisida juga mempercepat pematangan padi sehingga secara fisik luar padi sudah matang namun proses pematangan gabah belum sempurna.

Walaupun dapat diperoleh alat uji ini secara terpisah masing-masing, namun dipasaran ada pula yang memuat tiga ukuran ini dalam satu alat namun harganya sangat mahal, berkisar di atas 100 juta. zd