Pada 22 Agustus yang lalu Plt. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Dr.Ir. Haryono,M.Sc. beserta rombongan berkunjung ke Kabupaten Serang.

Turut serta dalam rombongan selain Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Direktur Serealia Dr.Ir. Hasil Sembiring, Direktur Perbenihan Dr. Ir. Bambang Budhianto, Kasubdit Padi Lahan Kering Ir. Syarifudin, Kasubdit Jagung Ir. Bambang Sugiharto,M.Eng, dan Kasubdit Pengelolaan PHT Ir. Dedi Ruswansyah,MM.

Kadistanak Prov. Banten Ir.Hj. Eneng Nurcahyati, Kabid Tanaman Pangan Ir. Kanim, Kepala BPTPH Prov. Banten, Kepala BBI Prov. Banten, Kasi Produksi Serealia Momod Syafrudin,SP.,M.Si. dan Kasi Pasca Panen Distanak Prov. BantenIr. H. Sulhi juga ikut mendampingi rombongan.

Juga hadir dalam kegiatan monitoring ini Kepala BPTP Provinsi Banten, Dr.Ir. Muchamad Yusron,M.Phil dan Dr.Ir. Eko Sri Mulyani,MS., kepala BPTP Provinsi Banten periode sebelumnya.

Dalam acara ini, Tim DPKPP dimotori oleh Kabid Pertanian, Ir. Puji Astuti,MM. Selain tim dari DPKPP Kabupaten Serang, ikut menyambut rombongan Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Serang, Ir.H. Sri Budi Prihasto,MM dan Kabid Ir. Edi Suhardiman,MM.

Ada dua lokasi yang ditinjau oleh Rombongan tersebut, Sentra Produksi Jagung Desa Bojong Nangka Kecamatan Petir dan Sentra Produksi Padi Desa Margasana Kecamatan Kramatwatu.

Di Desa Bojong Nangka Kecamatan Petir, rombongan diterima oleh Ketua Poktan Harapan Sejahtera V, Nurdiansyah, Ketua Poktan Harapan Sejahtera III Abu Bakar, Ketua Poktan Putra Jaya Sarkani dan Ketua Poktan Tunas Saluyu Cecep Rohana beserta para anggotanya.

Dalam kesempatan tersebut, rombongan sempat menyaksikan pemipilan jagung dengan menggunakan corn sheller. Pada saat demonstrasi alat, hasil pemipilan kurang sempurna. Banyak biji jagung yang pecah dan ikut terbuang dengan sisa tongkol.

Ketika melakukan pengukuran kadar air dengan menggunakan Grain Moisture Tester, kadar air biji jagung berkisar antara 23-27%. Tampaknya hal ini pula yang menjadikan hasil pemipilan kurang sempurna. Selain itu putaran mesin corn sheller tidak dapat diukur secara presisi. Idealnya untuk pemipilan jagung kadar air berkisar antara 18-20% dengan putaran mesin 500-600 RPM.

Dalam kesempatan ini diadakan Tanya jawab antara rombangan Dirjen TP dan kelompok tani. Beberapa permasalahan yang muncul di-antaranya harga benih jagung hibrida yang relatif tinggi, status petani penggarap, alat pasca panen, pembayaran jagung pipilan kering dari pabrik pakan yang tidak langsung, serta keterbatasan sumber air.

Dirjen Tanaman Pangan sempat menyampaikan penggunaan pompa air bertenaga surya (solar cell) sebagai salah satu solusi keterbatasan sumber air.

Terkait dengan harga benih jagung hibrida, Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Serang pada TA.2014 ini telah menganggarkan bantuan benih untuk pengembangan jagung hibrida seluas 200 ha.

Di samping itu untuk alsin pasca panen, Pemerintah Kabupaten Serang melalui DPKPP telah mengalokasikan anggaran untuk pengadaan corn sheller dan flat bed dryer.


Bantuan ini sebagai stimulan bagi pengambangan produksi jagung pipilan di Kabupaten Serang lebih lanjut. Namun untuk pembayaran produksi petani yang tidak langsung sepertinya perlu melibatkan pihak lain seperti lembaga keuangan atau perbankan.

Sore hari, Rombongan bertolak ke Desa Margasana Kecamatan Kramatwatu. Setelah sholat maghrib dan makan malam di RM. Tasik Kardi milik Ketua Gapoktan Harapan Sejahtera H. Anis Fuad, diadakan acara diskusi dengan perwakilan Forum Gapoktan Kecamatan Kramatwatu.

Forum Gapoktan diwakili antara lain oleh H. Anis Fuad Ketua Poktan Gentra, Kodiman Ketua Poktan Jambangan Mas, H. Safiudin Ketua Poktan Kubang Jero, H. Wasehudin Ketua Poktan Siipik, Ajiji Ketua Poktan Sibesi, H. Sadrawi Ketua Poktan Sri Jaya Bakti II, Murtado Ketua Poktan Wisma Tani.

Sebagai informasi, H. Anis Fuad, selain sebagai ketua kelompok tani Gentra, Ketua Gapoktan Harapan Sejahtera juga merupakan Asosiasi Perbenihan Banten (ASBENTEN)

Dalam acara diskusi sempat muncul permasalahan kelangkaan pupuk subsidi, pemasaran benih milik penangkar, dan masalah pengairan.

Masalah kelangkaan pupuk subsidi, Kabupaten Serang sendiri saat ini mendapat tambahan alokasi 600 ton sampai dengan Desember 2014. Namun solusi ini sesungguhnya bersifat jangka pendek. Untuk mencapai pertanian berkelanjutan, pertanian organik menjadi pilihan yang paling logis namun perlu rekayasa sosial dan teknologi yang bersifat spesifik lokasi sehingga proses ke arah pertanian organik bisa lebih akseleratif.

Terkait dengan permasalahan pemasaran benih penangkar, tampaknya para pemangku kepentingan belum punya persepsi yang sama terhadap sistem penyediaan benih tanaman pangan khususnya padi.

Program benih subsidi belum mampu menyediakan benih sesuai dengan preferensi petani. Berdasarkan pemantauan di lapangan, banyak penangkar-penangkar (skala kecil) yang sudah memproduksi benih dengan varietas yang lebih beragam dan sudah teruji sesuai spesifik lokasi.

Keengganan petani melakukan proses sertifikasi benih (terkecuali untuk penangkar-penangkar skala besar) menjadikan petani tersebut tidak dapat ikut dalam proses suplai benih kepada BUMN penyalur benih subsidi.

Di sisi lain, BUMN penyalur benih, dengan keterbatasan kebun produksi, hanya mampu menyuplai benih dengan varietas terbatas seperti Ciherang, Mekongga dan IR64, yang  daya tahan terhadap serangan OPT dan dampak perubahan iklim sudah semakin berkurang.

Terlebih lagi, pembayaran benih dari petani penangkar tidak secara langsung yang mengakibatkan petani terhambat dalam proses produksi selanjutnya.

Pada kondisi ini, asosiasi perbenihan yang idealnya dapat mengakomodasi permasalahan-permasalahan tersebut di atas dibutuhkan keberadaannya. Hal ini yang menjadi dasar pembentukan Asosiasi Perbenihan Banten (ASBENTEN).

Ada hal yang menarik yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Dalam pertemuan sehari sebelumnya antara Direktur Jenderal Tanaman Pangan beserta tim dengan Plt. Gubernur Banten, H. Rano Karno, dalam presentasinya, Dirjen Tanaman Pangan sempat menyampaikan tentang Moderate Resolution Imaging Specradiometer atau disingkat MODIS

Metode yang dikembangkan oleh NASA pertama kali pada tahun 1999 ini pada dasarnya menangkap data pantulan cahaya 36 spektrum dengan panjang gelombang 0,4-14,4 mikrometer yang dilepaskan oleh permukaan bumi pada berbagai resolusi spasial. Dalam penggunaan di lahan sawah, MODIS akan memantulkan panjang gelombang yang berbeda untuk setiap  fase pertumbuhan padi.

Hasil analisis ini kemudian dianalisa untuk menentukan umur tanaman (standing crops). Dengan mengetahui umur padi dan sebarannya dapat diprediksi dampak perubahan iklim seperti banjir dan kekeringan.

Seperti halnya kekeringan yang terjadi belakangan ini tidak memberikan dampak signifikan di Kabupaten Serang karena umur tanaman padi sudah lebih dari 3 bulan dan tidak lagi membutuhkan air seperti halnya pada fase vegetatif dan generatif awal tanaman padi.

Metode ini juga pada dasarnya dapat dipakai untuk menentukan jenis lahan sawah tersebut. Bila resolusi lahan sawah tersebut menunjukkan fase vegetatif pada bulan kemarau maka dapat dipastikan bahwa areal lahan tersebut adalah sawah irigasi.

Untuk pemetaan dengan menggunakan citra satelit resolusi tinggi, wilayah Kabupaten Serang seluas 145.265,17 ha membutuhkan dana sekitar 480 juta (Quickbird, 3 band).

Nilai nominal ini relatif kecil terutama bila dibandingkan dengan kegunaan peta tersebut yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor, tidak hanya pertanian lahan sawah, tapi juga perkebunan, peternakan, kehutanan, pemukiman, infrastruktur jalan, tata ruang, lokasi pasar dan lain sebagainya.

Hal ini tentunya terpulang kembali kepada visi pemangku kepentingan di daerah. Yang jelas informasi spasial dapat meningkatkan presisi data sebagai informasi bagi pengambil kebijakan, namun juga bukan satu-satunya informasi yang dapat digunakan. ZD

 

Dalam rangka mentasyakuri karunia Allah SWT, Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, DPKPP Kabupaten Serang mengadakan lomba-lomba antar bidang yang ditutup dengan pengajian. Rekaman-rekaman peristiwanya sebagai berikut: