Dalam rangka mentasyakuri karunia Allah SWT, Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, DPKPP Kabupaten Serang mengadakan lomba-lomba antar bidang yang ditutup dengan pengajian. Rekaman-rekaman peristiwanya sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada bulan Ramadhan yang lalu, tim Tanaman Pangan melakukan monitoring SLPTT Padi, Jagung, dan Kedele seluruh Kecamatan di Kabupaten Serang. Dalam kegiatan ini sekaligus tim juga melakukan verifikasi kelompok tani penerima bantuan tersebut.

Dalam kegiatan tersebut tim tanaman pangan mencoba mengumpulkan umpan balik kegiatan SLPTT yang telah dilakukan sejak tahun 2008 disamping menampung permasalahan-permasalahan lain yang terkait dengan budidaya tanaman padi, jagung dan kedele.

Pada saat monitoring, khususnya di daerah pantura, serangan hama tikus dan kepinding yang sedang meningkat cukup signifikan. Di beberapa daerah bahkan petani hanya dapat memanen sawahnya sekitar 10-20% saja.

Tim sendiri sempat mengusulkan untuk penggunaan petak umpan ataupun penggunaan LTBS (long trap barrier system), namun upaya ini dianggap masih mahal bagi kelompok tani selain juga kurang efektif. Efektifitas cara ini ataupun pengendalian serempak terutama disebabkan belum adanya serempak tanam dalam satu wilayah.

Bila mengacu kepada perilaku tikus dan hama pada umumnya yang dapat migrasi hingga ratusan kilometer, serempak tanam menjadi cara yang murah untuk memutus siklus hama.


Faktanya serempak tanam sulit dilakukan oleh petani karena pengairan tidak dapat mengairi lahan sawah dalam satu hamparan dalam waktu yang bersamaan di samping ketersediaan modal usaha tani yang berbeda antara satu petani dan petani lainnya.

Sempat muncul ide untuk menutup bendung Pamarayan selama sebulan penuh seperti yang pernah dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru. Cara ini disamping dapat mengendalikan jadwal tanam kelompok tani juga dapat menjadi pedoman bagi dinas/lembaga terkait untuk memperbaiki saluran irigasi.

Seringkali terjadi pada saat kelompok tani membutuhkan air, dinas/instansi terkait membuat jadwal gilir giring irigasi dalam rangka perbaikan saluran, yang terkadang tanpa melakukan koordinasi dengan pihak terkait lain. Akibatnya petani sulit merencanakan jadwal tanam.

Ada usulan pula untuk memperbaiki jadwal tanam serempak ini, perlu keterlibatan Pimpinan Daerah berupa instruksi kepada aparat desa atau kecamatan untuk ikut mengupayakan jadwal tanam serempak tersebut.

Masalah kelangkaan pupuk subsidi juga sempat mengemuka ketika Tim Tanaman Pangan monitoring ke kecamatan. Kondisi ini terutama semakin meningkat pada saat menjelang akhir bulan puasa, ketika petani sangat membutuhkan untuk pemupukan susulan. Tim juga mengestimasi bahwa kelangkaan pupuk ini berakibat pada penurunan produktivitas tanaman padi hingga 20%.

Pupuk bersubsidi yang merupakan pupuk anorganik setiap tahun ketersediaannya selalu menjadi permasalahan. Tim tanaman pangan sebenarnya mencoba merancang pertanian organik dalam rangka menuju pertanian berkelanjutan.


Selain bahan bakunya cukup tersedia di sekitar lahan, pemakaian organik ini juga dapat memulihkan kesuburan lahan yang telah sakit akibat residu pupuk kimia dan pestisida. Di sisi lain, harga produk pertanian organik juga memiliki nilai yang lebih tinggi di pasar-pasar premium.

Tapi penurunan produktivitas pada tahap awal penerapan organik menjadi masalah utama yang tidak semua petani siap mengantisipasinya. Karena itu kelompok tani perlu didorong terus untuk melaksanakan pertanian organik walaupun dalam skala terbatas.

Tim tanaman Pangan DPKPP juga mengupayakan memperbanyak demplot-demplot pertanian organik untuk lebih memperluas informasi tentang penggunaan pupuk organik secara tepat disamping mencoba memperbaiki teknik pengelolaan pertanaman untuk memperkecil kerugian akibat terjadinya penurunan produksi pada tahap awal pemakaian organik.

Dari diskusi dengan kelompok tani bahwa terjadi penurunan debit air irigasi sehingga pada musim kemarau banyak saluran yang tidak mengalirkan air. Ditenggarai pemakaian air sungai untuk kepentingan non-pertanian seperti perusahaan air minum, pabrik kaca dan pabrik kertas cukup menguras ketersediaan air.

Di samping itu, pembuangan limbah pabrik ke kali juga mengakibatkan penurunan kualitas air. Air yang masuk ke sawah berbau dan berwarna gelap. Tampaknya hal ini memerlukan koordinasi lintas SKPD dalam upaya penyelesaiannya.

Dalam monitoring pertanaman kedele, permasalahan utama yang muncul adalah kualitas benih dan curah hujan yang tidak menentu.


Sampai saat ini, penangkar benih kedele di Kabupaten Serang hanya 1 kelompok tani di Desa Sukarame Kecamatan Cikeusal. Berbeda halnya dengan kelompok tani penangkar benih padi yang cukup tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Serang.

Dalam program ini benih kedele di Kabupaten Serang berasal dari Cianjur (Jawa Barat), Solo dan Grobogan (Jawa Tengah). Teknik penyimpanan benih dan jarak yang cukup jauh ini diduga ikut menurunkan daya tumbuh benih kedele.

Akibatnya seringkali muncul asumsi di kelompok tani bahwa budidaya kedele tidak semudah budidaya padi. Di satu sisi Tim Tanaman Pangan berusaha mendorong petani untuk melakukan multi-cropping terutama di lahan sawah tadah hujan ataupun tegalan di sisi lain kendala ketersediaan dan kualitas benih kedele menjadi hambatan utama.

Pada saat yang bersamaan, Kabupaten Serang yang diramalkan memasuki musim kering, pada bulan Juli lalu mengalami hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Akibatnya banyak lokasi pertanaman kedele yang kebanjiran hingga harus ditanam ulang hingga 5-6 kali.

Tampaknya musim yang tidak menentu akibat Dampak Perubahan Iklim tidak diantisipasi oleh petani dengan membuat guludan yang lebih tinggi atau pembuatan drainase di lahan.

Namun patut disyukuri, masih banyak petani yang tetap melaksanakan niatnya untuk terus mencoba budidaya kedele walaupun banyak kendala yang ditemui.

Petani di Jawilan, Petir, Waringin Kurung dan Anyer termasuk petani yang masih antusias untuk tetap melakukan budidaya kedele terutama sebagai tanaman penyela pada saat lahan tidak ditanami padi.

Terkait pengembangan jagung pipilan kering, permasalahan utama adalah harga benih yang relatif mahal dan pasca panen.

Harga benih yang relatif mahal, walaupun sudah disiapkan benih subsidi jagung hibrida untuk pelaksana SLPTT namun hal ini belum cukup mendorong minat petani untuk menyediakan sebagian uangnya untuk membeli benih subsidi tersebut.

Permasalahan berikutnya adalah di pasca panen. Jagung pipilan kering memiliki pasar yang cukup potensial di Pabrik Pakan yang berlokasi di Kabupaten Serang.

Namun persyaratan teknis jagung pipilan yang diterima, terutama kadar air, serta jumlah dan jangka waktu pembayaran menyurutkan niat petani untuk mengembangkan jagung pipilan kering.

Tampaknya keberadaan tengkulak atau lembaga yang bersedia membeli panen tongkol kering milik petani sangat dibutuhkan. Bercermin pada pengembangan jagung pipilan kering di Provinsi Gorontalo, kepastian pasar merupakan faktor utama pengungkit kegiatan pengembangan jagung pipilan kering.

Petani yang menanam jagung dalam skala kecil, ribuan meter, belum mampu untuk menyuplai langsung ke pabrik pakan yang hanya menerima pasokan dalam jumlah minimal 7 ton.

Ketersediaan alat pengering (dryer) juga menjadi penyebab utama petani belum mampu menyuplai langsung ke pabrik pakan. Kadar air yang tinggi (>20%) menjadi penyebab utama rusaknya biji jagung akibat pertumbuhan jamur yang memproduksi aflatoksin.

Di tengah kondisi seperti ini, Masyarakat Kabupaten Serang patut berbangga hati karena Pimpinan Daerah masih peduli terhadap pengembangan jagung pipilan kering.

Ibu Wakil Bupati Serang dalam salah satu kesempatan diskusi akan mengusulkan agar BUMD dapat terlibat untuk pembelian jagung tongkol kering dari petani kemudian melakukan pengolahan serta pengangkutan ke pabrik pakan di wilayah Cikande.

Semoga kesempatan yang baik ini dapat ditanggapi dengan antusias oleh kelompok tani, terutama pelaku budidaya di lahan sawah tadah hujan dan tegalan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani palawija di Kabupaten Serang. (ZD)